Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Langit

Di bumi ini hal yang paling aku suka dari saat aku masih anak kecil adalah langit. Birunya langit di siang hari, Warna senja-nya, Hitamnya yang ditaburi kerlap kerlip bintang-bintang. Indah, sekaligus takjub. Ketika siang hari hadir, gumpalan awan selalu mempunyai bentuk yang unik, kadang imajinasi itu selalu diperlukan saat melihat awan di langit biru itu. Tertawa dan asik sendiri saat imajinasi liar itu bermain. Saat masih kecil dulu, waktu malam hari, suka lari-larian dan terkekeh karena sang bulan dan bintang-bintang itu seolah mengikutiku selalu. Lagu bintang kecil adalah lagu terfavorite ketika sang malam hadir, yaah walau kadang mengubah liriknya jadi bintang besar. Entah kenapa, pada waktu itu belum ngerti bintang-bintang itu besar atau kecil tapi selalu beranggapan bahwa bintang itu besar. Ketika umur nambah, bukan berarti bisa melupakan gitu saja tentang rasa suka ke langit. Malah jadi semakin menggila. Seperti vitamin gak langsung keti...

Senyuman Itu

Mungkin engkau tersenyum saat pertama kali aku hadir. Mungkin engkau tersenyum saat pertama kali aku pintar melakukan sesuatu. Mungkin engkau tersenyum saat melihat tumbuh kembangku. Dan aku bertanya-tanya, Apakah engkau masih tersenyum dengan apapun yang aku lakukan ? Atau malah engkau kecewa. Aku ingin melihat senyum indahmu. Tatapan mata yang sayu dan lembut. Garis mata yang sudah keriput. Pipi yang sudah tidak sepertiku. Aku ingin melihat senyuman itu. Aku ingin melihat tatapan wajah itu ketika engkau melihatku saat bangun tidur. Engkau adalah malaikatku, sampai kapanpun. Engkau putih dimataku, sampai kapanpun. Aku ingin melihat wajah bahagia itu, Aku ingin melihat wajah penuh banggamu itu. Tunggu, Aku akan mengindahkan harapanmu itu padaku. Tunggu, Jangan pergi terlalu jauh. Aku pasti bisa membuat engkau mengatakan bangga memiliki aku. Tunggu, Aku juga bisa menyelamatkanmu. Aku sedang berusaha, jadi bersabarlah. Dan berikan aku senyuman itu.

Perangkap Pikiran

Keheningan itu membunuhnya, dia tahu itu, hening adalah salah satu suasana yang menyeretnya masuk ke dalam perangkap pikirannya. Yang dia lakukan hanyalah membeku, membiarkan dirinya tenggelam dalam kubangkan pikirannya. Dia berusaha mengangkat tangannya mengarah ke langit, dan bergumam lirih  " tolong, ...... selamatkan aku ". Dia bisa tahan banting jika pikiran orang lain yang harus dia terima, tapi .. pikiran dia sendiri ? Bagaimana dia melawannya ? Pikiran itu tiada ampun menyerang segala penjuru ruang dihatinya. Bagai memukulnya telak dan dia hanya bisa kehabisan nafas, dan meronta-ronta meminta dibuang semuanya, semuanya, semuanya. Hening, adalah suasana yang paling dia sukai dulu. Dia memang suka dengan bermain pada pikirannya, memikirkan segala hal disaat hening adalah hal yang paling menarik buatnya. Tapi, melihatnya yang sekarang menderita. Saat hening malah membuka pintu berfikirnya semakin ekstrim dan semakin menggila saja, dia...