Perangkap Pikiran

Keheningan itu membunuhnya,
dia tahu itu, hening adalah salah satu suasana yang menyeretnya masuk ke dalam perangkap pikirannya.
Yang dia lakukan hanyalah membeku, membiarkan dirinya tenggelam dalam kubangkan pikirannya.
Dia berusaha mengangkat tangannya mengarah ke langit, dan bergumam lirih 

"tolong, ...... selamatkan aku".

Dia bisa tahan banting jika pikiran orang lain yang harus dia terima, tapi ..
pikiran dia sendiri ?
Bagaimana dia melawannya ?

Pikiran itu tiada ampun menyerang segala penjuru ruang dihatinya.
Bagai memukulnya telak dan dia hanya bisa kehabisan nafas, dan meronta-ronta meminta dibuang semuanya, semuanya, semuanya.

Hening, adalah suasana yang paling dia sukai dulu.
Dia memang suka dengan bermain pada pikirannya, memikirkan segala hal disaat hening adalah hal yang paling menarik buatnya.

Tapi, melihatnya yang sekarang menderita.
Saat hening malah membuka pintu berfikirnya semakin ekstrim dan semakin menggila saja, dia mulai lelah, dia mulai gelisah, dia mulai takut, dia mulai benci, dia mulai sedih, dia mulai marah, dia mulai sakit, dia mulai kehilangan harapan.

Pikiran rumitnya terlalu menjebak,
sudah berapa kali dia membunuh semua pikiran itu ?

Saat pikirannya memutarkan segalanya dan tak terkendali, dia bunuh sana sini untuk menyelamatkannya tapi pikirannya itu malah bercabang dan makin menyesakkan dan tak terkendali.

Ah lihat, dia histeris.
Bagaimana supaya dia tenang kembali ?

Menyeretnya ?

Ah lihat, dia berusaha naik ke permukaan kubangan pikirannya, 
sepertinya dia sudah terlalu memaksakan dirinya sendiri. 

Melihat matanya yang mati itu begitu mengerikan,
pikirannya sudah membuat dia terlihat mengenaskan,
pikirannya sudah menempel disalah satu ruang hatinya.

Hei, itu menyesakkan kan ?
Kenapa kamu membiarkan dia menempel pada hatimu ?
Mata-nya yang mati itu bergerak kebingungan, dia hanya bisa menjawab lirih 

"aku tidak akan kalah, aku kuat, aku sudah menerimanya, nanti dia akan bersahabat denganku."

Bodohnya dia,
bersahabat katanya, kuat katanya, padahal dia lemah. Padahal tadi dia histeris, padahal dia tadi tenggelam. Kurang puaskah ?

Ah lihat, sekarang matanya sudah mulai hidup.
Tapi tetap saja, ruang di hatinya dipenuhi setitik demi setitik permainan pikirannya.
Apakah dia segitu tidak bisanya membagi pikirannya ke orang lain, rumit sekali ruang hatinya.

Entah bagaimana kelak nanti dia menata ruang itu.
Ah, tak sabar rasanya melihat dia akan menata ruang itu kembali.

Melihatnya menderita hanya membuat lelah,
melihatnya keras kepala sama semua pikirannya lebih melelahkan lagi.

Hentikanlah,
Berbahagialah, jangan takut pada semua pikiran itu, mungkin dia tidak bisa memperbaikinya tapi dia lebih baik ingat satu hal.

pikiran yang memutar di otaknya sudah berlebihan, lihatlah ke atas langit, masalahmu yang kau ciptakan pada pikiranmu itu hanya kecil dibandingkan misteri pada langit itu, dan yang maha sempurna pasti akan membantumu. 

Jadi, hentikanlah terperangkap pada pikiranmu sendiri.
Kamu berhak untuk bahagia, tanam kebahagiaan pada dirimu maka perangkap pikiran yang menyesakkan itu akan semakin menghilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Webtoon The Second Marriage

Lagu dengan tema "Rumah"

Jika Kau Warna