Cerpen Tentang Percintaan
Secret Admirer
By : Rizky Yunda Pertiwi
Malam-malam begini siapa sih yang masih sms, batinku. Handphoneku saat ini ada di dekat jendela, dengan males-malesan aku berjalan untuk mengambil handphoneku. Ternyata isi dari pesan itu cuma "Hai boleh kenal gak?" Ih gak penting banget yang mengirim sms ini. Sebelum handphone itu aku letak di tempat semula, aku mengubah dulu deh jadi silent supaya gak mengganggu orang tidur. Setelah itu aku kembali ke tempat tidur dan berusaha untuk tidur dengan lelap.
Samar-samar aku merasa ada yang memanggil namaku, semakin lama semakin aku bisa mengenali suara itu, suara yang tidak asing lagi tapi mata ini sangat sulit untuk menyapa pagi, tidak hanya teriakan yang aku dengar melainkan seperti suara pintu di ketuk-ketuk.
"Zaaaahhhrraaaaaaa ........ bangun sudah jam berapa ini, sampai kapan kamu mau tidur melulu, emangnya kamu gak mau ke sekolah !!" teriak mamaku.
"Iya ma ........... ini udah bangun kok."
"Cepat mandi, jangan lupa sarapan sudah ada di meja dan bekal kamu juga ada di meja, jadi jangan lupa bawa lagi ya, cepaaaat jangan lama-lama mandinya ini sudah jam 6 pagi !!
Haaaaaa inilah pagi hari versiku, di bangunin sama suara mama yang menggema, belum lagi nanti rebutan kamar mandi sama abangku Reno, kemarin aku terlambat dan hari ini aku gak mau terlambat karena guru jam pelajaran pertama itu super dupeer killer banget, hiiiii serem banget pokoknya. Langsung tancap gas deh ngambil handuk dan lari-lari ke kamar mandi dan ternyata fiuuuh pagi ini aku gak mesti harus ada adegan rebutan kamar mandi. Kalau aku mandi sih gak perlu lama ya, pokoknya gak sampai 1 jam tetapi kalau bang Reno, beeeuuuh mandinya lama banget, cowo kok mandi bisa sampai 1 jam lebih. Walau dia mandi sampai berapa jam pun tetep aja tuh badan gak putih-putih. Beda sama aku yang mandi gak mandi tetep aja putih dan kinclong.
Hari ini mungkin hari super beruntungnya aku, papa dengan baik hati bilang mau nganterin aku sampai ke gerbang sekolah, biasanya cuman sampai simpang perumahan doang. Mungkin papa agak mau nyantai ke kantor kali ya. Dan karena hari ini aku gak bakalan terlambat, aku mau ngasih kabar gembira ini sama sahabat baikku si kembar Vivi dan Vara. Eits tunggu dulu ini kok ada kotak masuk ya pagi-pagi ada 5 pesan pula, pesan pertama isinya "Kamu kok gak bales sms aku sih?" yang kedua tetap dari nomor yang sama dia bilang "Jadi cewek jangan sombong, ntar gak laku loh", yang ketiga isinya "Oke aku maklum mungkin kamu sudah tidur ya ?", yang keempat "Tidur beneran apa bohongan nih ?", dan yang kelima lagi-lagi yang mengirim pesan gak penting ini tetap nomor yang sama "Oke, met malam ya, met tidur aja,see u."
Ihhhh geli banget aku baca sms ini, whatever lah aku gak mau mood aku rusak hari ini gara-gara si nomor aneh ini, sampai di sekolah aku ceritain hal ini sama Vivi dan Vara. mereka ini kembar tapi ada bedanya karena yah walau wajah bisa di bilang mirip tapi soal badan lebih gemuk Vivi.
"Wah...wah aku gak nyangka kalau kamu punya secret admirer di sekolah, perlu di curigai nih, kenapa dia mau sama makhluk kayak kamu sih Zahra ?" ledek Vara.
"Vara...Vara, kamu gak tahu kan, Zahra itu punya pelet, masa 5 bulan terakhir ini dia banyak banget penggemarnya." ledek Vivi.
"Hahahaha kalian iri kan sama aku."
"Haduh, sorry ya Zahra, yang suka sama kamu itu tukang kebun sekolah, tukang kantin, sama tukang parkir sekolah, hahahahah." ledek Vivi.
"Waduuuuh, hei dua makhluk kembar tapi tidak serupa, sejarahnya Zahra itu emang di sukai banyak orang, mereka itu bukan cinta tapi suka lihat aku, mereka bermimpi akan punya anak kayak aku, karena aku ini makhluk ciptaan Allah yang oke punya."
"Ihhhhhhh sombongnya anak ini !!!!!" gerutu Vara sambil mencubit lenganku.Vivi dan Vara adalah sahabat yang paling mengerti aku, mereka berdua itu terdakang seperti kakak dan adik bagiku.
Di jam istirahat Vara bercerita padaku bahwa dia lagi suka sama kakak kelas namanya Radith. Sedangkan Vivi lagi bercerita kalau dia lagi kagum sama kakak kelas juga namanya Elang. Radith itu orangnya keren banget juga dia cool kapten basket pula, sedangkan Elang dia jago main sepak bola, bukan hanya sepak bola yang dia bisa dalam mengerjakan soal matematika bisa diacungin 2 jempol deh. Memang gak salah pilih meraka.
"Kalo Zahra suka sama siapa ?" tanya Vara.
"Lagi gak suka siapa-siapa kok."
"Ah masa sih ?" tanya Vivi.
Saat kami sedang mengobrol asik, tiba-tiba ada sms masuk, saat ku buka ahh ternyata dari nomor aneh itu lagi. Dia bilang "Haaaayyooo Zahra liatin siapa, Elang atau Radith ?" Syok deh aku, siapa sih dia ini, dapat darimana nomor aku. apa dia ada di kerumunan Elang sama Radith, saat aku ingin memastikan banyak banget yang lagi pegang handphone termasuk Elang dan Radith. Karena penasaran terpaksa aku balas "Ini siapa sih ?". Lima menit kemudian akhirnya dia membalas smsku. "akhirnya kamu membalas sms dari aku juga ya :)". Huuufht orang seperti ini memang sangat sulit untuk mengaku. Lalu aku membalas pesannya lagi "Aku minta tolong sama kamu, kalau kamu cowok yang gentle dong, masa main sembunyi-sembunyi begini dan jika kamu cewek yang nyamar jadi cowok, tolong jangan kurang kerjaan, di rumah aku ada kerjaan tuh jadi tukang cuci piring !" jawabku kesal. Di tunggu-tunggu sms ku sudah tidak di balasnya, kerumunan Elang dan Radith pun sudah bubar. saatnya masuk ke kelas.
Saat pulang sekolah, Vivi dan Vara hari ini tega banget gak mau menemani aku menunggu di jemput sama mama. tiba-tiba handphone aku berdering, ada sms masuk. Ternyata isinya dari mama bilang gak bisa jemput. Terpaksa deh naik angkutan umum. Sore ini sekolah sepi, biasanya ada anak ekskul. Saat aku jalan ke gerbang sekolah, ada sebuah motor melaju ke arahku dan ternyata itu Elang.
"Kok sendirian Zahra ?" tanya Elang.
"Elang kok tahu Zahra, iya tadi mama janji jemput ternyata sudah menunggu lama malah mama bilang gak bisa jemput."
"Ya tahulah, masa cewe yang menang model kemarin aku gak tahu, lagian aku kenal kok sama Vivi Vara, btw mau aku antar pulang ?"
"Oh Elang dekat sama si kembar ya, ehmm gak ah ntar Elang kalau nganter Zahra pulang ada yang cemburu loh."
"Kok ada yang cemburu, aku kan gak punya pacar ?"
"Tapi ada yang suka sama kamu, gak enak Zahra."
"Oh Vivi ya, jangan takut sama Vivi, udah ayo aku antar pulang, emangnya kamu mau sendirian pulang ?"
"Aneh, kok Elang tahu, ya sudah boleh deh tapi resikonya Elang yang tanggung sendiri ya."
Saat di antar pulang Elang, aku jadi ngerasa bingung ya, sebenarnya apakah Vivi sudah menyatakan perasaannya, ah entahlah. Akhirnya sampai juga di home sweet home.
"Sampai besok Zahra, btw ada pin bb gak ?"
"Ada tapi mintanya sama Vivi aja ya, byeeeeeeee."
***
Hari ini aku terlambat datang ke sekolah, jadinya hari ini aku dapat hukuman dan ternyata Radith pun juga terlambat. Yang lain di hukum membersihkan halaman sekolah tetapi aku dan Radith mendapat hukuman membersihkan aula sekolah. Aku melihat Radit sibuk memainkan handphone-nya. Tanpa sadar akhirnya mata kami bertemu dan entah kenapa aku jadi salah tingkah. Radith hanya tersenyum melihatku. Gak berapa lama handphone ku berbunyi ada sms dari nomor tidak di kenal yang selama ini selalu menyembunyikan siapa dirinya. Dia bilang "Semalem kamu pulang bareng sama Elang ya, dia ngapain kamu sampai datang ke sekolah telat gini." Aku langsung kesal banget sama pengirim ini sms, kok dia tahu semuanya sih, dia siapa sih, kurang kerjaan banget menyembunyikan dirinya. Entah berapa lama Radith berdiri di sampingku, membuat aku kaget dan deg deg kan saja.
"Baca sms dari siapa, kok kesal banget ?" tanya Radith.
"Sms dari orang iseng." jawabku seadanya.
"Memang akhir-akhir ini banyak orang iseng Zahra." kata Radith sambil tersenyum."Baca sms dari siapa, kok kesal banget ?" tanya Radith.
"Sms dari orang iseng." jawabku seadanya.
Ya ampun kenapa aku jadi merasa terpesona sama sosok Radith ya, emang dia cool banget beda sama Elang. Rasanya jantung ini berbicara dengannya dag dig dug banget deh, aduh ingat Zahra, Vara suka sama Radith, masa kamu tega menikam sahabat kamu sendiri.
"Zahra, kamu punya pin bb gak ?" tanya Radith mengagetkan lamunanku.
"Ha .... Punya."
"Kalau boleh minta, berapa ya ?"
"27ky**** jangan di bagi-bagi ya."
"Ya gak lah Zahra, ngapain aku bagi-bagikan." dia berkata dengan senyum tipis.
Sesampai di kelas vivi sewot, dia bilang kalau Elang bilang ke dia bahwa semalem aku diantar pulang sama Elang. vivi juga kesal sewaktu Elang bm dia cuman nanya pin bb aku doang. Dengan terpaksa katanya vivi memberikan pin bb aku ke Elang. Vivi marah banget sama aku karena hal ini, dan mungkin jika Vara tahu aku di minta pin bb sama Radith dia juga bakalan marah besar nih. Yah sejak mulai berbicara, dan melihat senyuman Radith dari dekat aku merasa ada perasaan aneh di hati.
***
Aku semakin sering bm-an sama Radith bahkan Elang tidak terlalu aku pedulikan. Aku dan Radith semakin dekat, aku dan Radith sering terlambat bareng, menyapu bersama, tertawa bersama, melakukan hal konyol bersama saat lagi di hukum, pokoknya bersama Radith menjadi lebih seru, dia tidak hanya baik dan cool tetapi terkadang bisa sangat jahil sekali. Berbeda dengan Elang, yang cenderung membosankan mengobrol dengannya. Tiba-tiba handphoneku bergetar ada sms.
"Zahra, kamu marah gak suatu saat kamu tahu aku yang asli." sms dari nomor yang menyebalkan itu.
"Aku gak tahu."
"Aku suka sama kamu dari pertama melihatmu, tapi temanku juga menginginkanmu, bahkan untuk sekedar meminta nomor kamu aja susah."
"Oh, terus kenapa gak kenalan langsung, malah main sembunyi-sembunyi ?"
"Ini siasaatku, karena kalau terlalu terus terang, banyak pihak yang kecewa."
"Aku semakin gak mengerti !" jawabku kesal.
"Oke, kita ketemu sekarang, kamu mau kan, aku tunggu di PIM jam 3 sore." perintahnya.
"Oke."
"Ingat jangan bawa teman ya."
Jam 2 aku berangkat dari rumah ke PIM, perasaanku campur aduk, ingin tahu siapa selama ini yang selalu sms yang menyebalkan itu. Sesampai di sana dia menyuruhku dateng ke sushi groove restaurant. Aku datang ke sana, aku melihat ada sosok yang aku kenal, aku jalan ke arahnya, hanya ingin sededar menyapa.
"Hai Radith, kamu di sini juga ?" tanyaku.
"Ehm Zahra silakan duduk." perintahnya.
"Tapi aku lagi nyari seseorang, kamu ke sini sama siapa ?" tanyaku.
"Orang yang kamu cari aku Zahra."
"Ah jangan bercanda lah."
"Aku serius, selama ini yang buat kamu kesal dengan sms aneh itu aku Zahra !"
"Jadi maksud kamu apa Radith, kamu kok ternyata kenak-kanakkan ya, itu gak gentle banget Radith."
"Aku tahu tapi ini ada alasannya."
"Apapun itu alasannya, tapi kamu keterlaluan tahu gak !" kesalku. Dia memegang tanganku melarang aku pergi dan dia ceritakan semuanya, kalau Elang itu sepupunya Vivi dan Vera, Elang sangat menyukai aku, sedangkan dia ada di posisi tidak bagus, memang rencana si kembar dan Elang tentang kepalsuan Vivi suka sama Elang, sedangkan Radith terus menerus di cegah dekat denganku, karna setiap gerak gerik Radith Vara tahu itu. Belakangan ini Vara terus-menerus meneror Radith dengan kata-kata "Jika kamu memilih Zahra daripada aku maka aku akan bunuh diri !".
Sesampai di rumah aku terus berfikir, gak habis pikir kenapa si kembar tega samaku, mereka yang sudah aku anggap sahabat, berani menikamku dari belakang. Aku yakin Vara tahu kalau aku dekat dengan Radith, aku bisa suka sama Radith, karena Vara tahu tipe pacar idelku. Hufffht aku kayak boneka yang dipermainkan mereka.
***
Di sekolah gosip aku bersama Radith di PIM beredar, si kembar mengajak aku bolos ke rumah mereka untuk berunding tentang hal ini.
"Aku udah bilang, aku suka sama Radith, jadi kenapa kamu tetap dekatin dia !!!"bentak Vara kepadaku.
"Asal tahu aja ya Var, Radith lah orang yang selama ini nomor yang tidak di kenal itu."
"Radith ??!! kamu bercanda kan, kenapa aku gak tahu hal ini, aku udah cukup sabar ya Zahra, melihat kamu ketawa bareng di hukum pas terlambat !"
"Aku gak bercanda, Vara aku juga gak mau punya rasa ini."
"Ini sebabnya aku menyuruh Vivi dan Elang mengambil langkah cepat supaya kamu gak kenal sama Radith dulu, tapi apa !!!"
"Cinta gak bisa dipaksa Vara, Cintamu membuatmu buta, kalian mempermainkan aku, aku gak akan merebut Radith darimu, dan aku gak mau berpacaran sama Elang, aku pergi !"
Saat aku mau keluar dari rumah si kembar, Radith dan Elang mencegatku untuk jangan pulang dulu. Aku di paksa masuk kembali ke rumah itu dan membicarakan hal ini lagi.
"Aku minta maaf ya Zahra, telah berbohong, ini demi Vara." kata Vivi lirih.
"Gak begini juga caranya Vi, kalau memang Radith gak suka sama Vara jangan di paksakan, yang akhirnya aku gak tahu apa-apa menjadi korban, udah di isengin Radith, kamu bohong lagi tentang Elang, ternyata dia sepupumu kan ?" tanyaku pada Vivi.
Mereka semua terdiam, perlahan terdengar isak tangis dari Vara dan dia berlari ke arah Radith dan memeluknya.
"Kamu akan memilihku kan ? kenapa kamu selalu cuek dan terus memandang dia" tangisnya.
"Vara, maaf tapi aku memang gak cinta sama kamu, aku sudah sangat menyukai Zahra, Vara tolong jangan kayak anak kecil, masih banyak cowok di luar sana, Vara aku juga ingin bahagia, hentikan ancaman konyolmu itu." Radith melepas pelukan Vara. Perdebatan ini tidak kunjung selesai, aku bersikeras akan pindah sekolah tetapi Radith dan Vivi tidak mengijinkanku. Tetapi aku tetap pindah ke luar kota.
2 Tahun Kemudian
Aku gak bisa melupakan Radith, aku pikir ini cuman cinta sesaat, mungkin saat ini dia sudah punya pacar, atau mungkin Vara telah berhasil merebut hati Radith ?
Entahlah tapi ini saatnya aku kembali ke Jakarta, apakah Radith tetap di Jakarta, atau dia kuliah di luar negeri ?
Aku sampai di rumah lamaku, aku ke garasi dan membawa mobil ke tempat di mana aku kenalan sama Radith karena terlambat, dimana aku tertawa bersama dengan sahabatku. Kini tinggal kenangan.
"Puk" ada yang menaruh tangannya di pundakku, aku kaget dan melihat ke belakang dan ternyata.
"Hai, lama gak bertemu, kamu kangen tempat ini, aku juga tiba-tiba pengen ke sini, apakah kita berjodoh bisa bertemu sekarang ?" tanyanya padaku sambil tersenyum.
"Iya, apa kabar, sudah punya pacar ?" tanyaku.
"Pacar, bagaimana aku bisa punya pacar, kalau hatiku masih ingin menjadi penggemarmu." katanya lirih.
"Aku gak percaya Radith kalau kamu belum punya pacar."
"Ya sudah."
"Bagaimana sama Vara ?" tanyaku.
"Dia bilang dia mau kerumahmu, ibu kamu bilang kalau kamu bakal pulang hari ini, mungkin sebentar lagi dia datang ke sini."
Kami sama-sama diam, tidak tahu mau berkata apa, selama 10 menit kami tetap diam tapi debaran jantungku tidak bisa berhenti, tiba-tiba ada suara teriakan.
"Zaaaahhhhrrrraaa !!!" teriak Vara. Aku hanya bisa tersenyum melihat dia berlari kearahku dan memelukku.
"Maafkan aku ya, aku sadar aku salah, selama kamu gak ada, dia tetap dingin padaku, akhirnya ada cowok yang gak kalah keren dari dia bilang, dia mau menyelamatkan hatiku yang sakit, akhirnya kami pacaran deh." kata Vara.
"Syukurlah kalau begitu." kataku sambil tersenyum.
"Zahra, aku kangen." kata vivi sambil memelukku.
"Oh iya, Elang gak bisa datang karena dia kuliah di Australia." kata Vara.
"Kenapa kalian gak berpacaran saja ?" kata vivi menatapku dan menatap Radith.
"Zahra, aku udah gak sanggup menahan perasaanku sendiri, aku menunggu lama, menyukaimu juga sudah cukup lama, tapi aku belum bisa bilang, mau kah kamu menjadi pacarku ?"
"Mau ... mau .... mau .... mau" kata si kembar.
Aku tersenyum dan berkata aku mau pacaran dengannya, mata kami bertatapan kembali, ada perasaan malu dan bahagia. Cerita cinta ini aneh, walaupun sempat mengalami konflik, sempat mengalami perpisahan tetapi aku masih tetap menyukainya.
END


Komentar
Posting Komentar