Kepingan Ingatan

Setiap manusia gak jauh dari ingatan, entah itu yang bahagia, biasa aja, atau yang sakitnya luar biasa.

Kebanyakan manusia sangat mudah mengingat hal yang menyakitkan daripada hal yang menyenangkan.

Anehnya ketika hal menyakitkan itu datang, ingatan akan kebahagiaan perlahan-lahan mulai retak dan hancur berkeping-keping.

Mau gak mau, senang ataupun tidak senang, pecahan ingatan yang berserakan dan tajam itu harus dilalui. Sakit sudah pasti, menjerit mungkin bagi sebahagian manusia. Terluka jangan ditanya lagi. Apakah kenangan itu kembali utuh ?

Semua tergantung waktu.

Ingatan yang sudah retak itu tidak akan sama lagi jika diingat. Hal yang harusnya membuat tertawa bahagia, cekikikan gak jelas berubah menjadi hantu masa lalu yang setiap saat mengikuti, sesuatu hal yang menakutkan, menyisakan trauma, dan sedih tiada tara.

Berbalik arah sudah tidak mungkin, yang ada hanyalah teruslah berjalan walau kakimu berdarah-darah saat melewati kepingan ingatan itu, walau harus sambil terisak-isak, walau harus memaksa menyeret kakimu. Semua sudah hancur. Semua sudah hilang. Tidak tersisa apapun.

Dan dirimu yang terluka parah itu, masih harus terlihat kuat, masih harus cengengesan, masih harus tegak berdiri. Seolah, tidak ada apapun yang terjadi.

Ah entahlah, jika membicarakan kenangan, itu sangat sulit diobati.

Hari ini engkau berdamai dengannya.
Esok ketika engkau mengingat kembali, rasa sakit itu masih sungguh terasa dihati.

Ketika engkau sudah lupa rasa sakitnya.
Tiba-tiba, kepingan kenangan yang berserakan itu tertiup angin dan sontak terlihat sedikit demi sedikit kenangannya. Saat itu engkau mungkin membeku. Melihat lagi ke arah di belakangmu. Percuma tapi tetap dilakukan.

Ketika engkau berusaha membagi sakitmu dengan mulai terbuka menceritakan sedikit demi sedikit kenangan itu, si pendengar mungkin juga tidak tahu akan berbuat apa. Hanya berusaha menyemangatimu, mengatakan semua akan baik-baik saja. Atau dengan percaya dirinya dia akan mengatakan akan menjadi penyembuh untukmu.

Lupakan itu semua, yang kamu butuhkan bukan hanya kata-kata kan ?

Dan yang terakhir, jangan berhenti untuk mentaklukkan rasa sakit itu, terus terusan berdamai. Trauma memang tidak bisa disembuhkan secepat kilat. Dengan berjalannya waktu dan rasa sakit itu ditimpa dengan kebahagiaan yang lain, pasti sedikit demi sedikit mengikis rasa sakit dari paksaanmu. Jangan jadi membalaskan dendam rasa sakit itu dengan membuat orang lain juga merasakannya. Jadilah bijak, karena engkau yang paling tahu sakitnya. Dan jangan pernah tertawa puas ketika kamu melukai orang lain demi membuat mereka merasakan hal yang sama.

Dan jangan sampai jadi melukai fisikmu, apakah tidak cukup dengan luka dihatimu ?
Luka fisik tidak akan membuatmu puas yang ada hanya semakin engkau kehilangan keseimbangan emosimu.

Berdamai dan teruslah berdamai.
Ikhlaskan dan teruslah mengikhlaskan.
Sejukkan hatimu dengan ibadah dan ibadah.

Ingat, engkau tidak bisa menyembuhkan lukamu sendirian, jangan sombong seolah kau yang paling bisa mengobatinya.

Ada sang pencipta yang menentramkan hatimu.
Yang mengikis kesakitanmu.
Dan jika engkau bersabar, ia yang maha sempurna akan menggantikan kesakitan itu dengan kenangan yang lebih baik, orang-orang yang lebih baik. Dan perjalanan kehidupan yang baik. Perjalananmu masih panjang kan ?

Ayooo kita teruskan perjalanan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Webtoon The Second Marriage

Lagu dengan tema "Rumah"

Jika Kau Warna