Salah Satu Kisah Rain

Hujan akhirnya turun. Alhamdulillah.

Ah aku jadi ingin cerita tentang kisah Rain, mari kita mulai.

Alkisah Rain diselimuti kabut dan kilat-kilat yang menyambar, Rain tak mengerti kenapa kabut selalu membuat perasaan gelisahnya tak kunjung hilang. Rain lagi-lagi menitikkan bulir-bulir air-nya. Tetesan demi tetesan membuat perasaan Rain semakin sendu. Ia tak mengerti kenapa ia begitu sendu.

Tetesan airnya tertiup angin dan membuat arah tetesannya tak jelas. Hatinya bertempur memperlihatkan kilat-kilat semakin menyala.

"Ahhh harusnya saat angin membawaku ke arah utara airku tak tertiup dengan mudahnya kesana"

Rain menyesal.

"Aduuh seharusnya saat angin tertiup ke barat aku juga tak terbawa dengan mudahnya"

Seperti itu terus menerus.

Angin bosan disalahkan terus.
Akhirnya dia angkat bicara.

"Kamu tahu, di arah barat sana mereka menantikanmu turun, tapi kau malah menyesalinya."

"Dan lagi, apakah kamu tahu di arah utara sana, mereka mengumpat tetesan airmu turun. Aku membawamu kesana bukan karena memberi pelajaran ke mereka. Tapi ada mahkluk yang bahkan kau bisa membunuhnya tapi ia membutuhkanmu. Ia kecil, kau bisa menghanyutkannya tapi ia masih ingin kau hadir."

Rain terdiam sejenak. Ia memang suka sekali kebingungan jika angin menerbangkannya kemanapun. Ia sulit menerima dengan lapang dada semua itu. Yang iya tahu bahwa ia sang sendu. Ia sang pembawa dingin. Ia yang pantas dicaci jika datang.

Tapi ia lupa, sang angin membawanya pastilah ada alasannya, dan bukan menjebaknya.

Ia lupa bahwa ia tercipta memang tak mampu menyenangkan semua makhluk, ia kadang lupa untuk apa ia diciptakan. Padahal ia tahu seberapa manfaatnya ia untuk makhluk lainnya.

Hai Rain, aku mencintaimu. Ia dirimu sendiri, kamu indah Rain, ia dirimu sendiri. Sudah cukup sendunya Rain, semua hal yang terjadi, semua hal yang membuat tetesan airmu jatuh tak beraturan, semua hal yang mengumpatmu, semua hal yang mengagumimu. Kamu hidup bukan untuk membenci dirimu sendiri. Kamu ada bukan untuk merasa bingung. Kamu yang tahu siapa dirimu dan apa yang kamu bisa lakukan. Bahkan dimanapun sang angin membawamu, ingat pasti ada alasannya. Jangan salahkan dirimu dan dia.

Biarkan saja makhluk lain tak terima, biarkan saja makhluk lain menekanmu, biarkan saja mereka Rain. Setelah sendumu hilang, mentari hangat akan memelukmu. Mengeringkan tetesanmu.

Jadi terimalah semua yang terjadi Rain.
Jangan siakan hidupmu dengan bingung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Webtoon The Second Marriage

Lagu dengan tema "Rumah"

Jika Kau Warna