Sang Dingin
Pernahkah kau bertemu dengan sang dingin ?
Yang membuat tubuhmu menggigil membutuhkan secarik kain yang hangat.
Apakah dingin itu akan hilang ditutupi hanya secarik kain ?
Tidak.
Karna yang kau butuhkan kain tebal nan bermeter-meter.
Satu persatu kehangatan yang melekat pada tubuhnya pergi.
Dia kedinginan, semakin dingin dan menjadi sang dingin.
Dia bahkan lupa, kapan terakhir kali merasa hangat.
Sedikit kain saja sudah tak bisa lagi membuatnya hangat.
Tidakkah ia begitu memprihatinkan ?
Dengan cara seperti apa yang kau pikirkan untuk ia merasakan hangat kembali ?
Memaksakan semua pemberian selimut-mu ?
Ia bahkan tak merasakan kehangatan ketika bertemu dengan para bintang kecintaannya.
Atau malah bintang yang ia cintai sudah mati dan tidak memberikan ia kehangatan ?
Lantas apakah kau mampu menjadi sang hangat untuknya diantara matinya bintang yang ia cintai ?
Sekeras apapun usahamu,
Ia sedikitpun tak melirikmu.
Aku rasa, hangat yang kau tunjukkan itu memuakkan untuknya.
Kau hanya membuat ia jauh dari perasaan hangat.
Atau mungkin kini kaulah sang bintang mati itu baginya ?
Kau yang salah satu kehangatan yang pergi darinya ?
Kau terlihat panik, karna tameng es-nya sedikitpun tak mencair.
Bahkan semakin tebal.
Sudahlah, saat ini biarkan es-nya menebal sebanyak ia mau.
Belum waktunya, saat ini masih musim dingin.
Jadi percuma saja kau memaksakannya.
Selagi musim semi masih belum terlihat. Do'akan saja ia selamat pada musim dinginnya.
Kau tak bisa memaksakan perputaran musim yang belum waktunya. Yang ada malah kau tak akan selamat pada musim dinginnya.
Berhibernasilah.
Komentar
Posting Komentar