Si Keong

Kau lihat dia..

Ia sedang berusaha berlari terus kedepan.
Walau dalam waktu 10 menit ia hanya beranjak 13,4 cm dari tempat semula.

Lihat dia lelah.
Dia lelah kenapa dia begitu lambat.

Para cheetah bersorak sorak ramai menggeram tak sabar menunggu betapa lambatnya ia.

"Kau begitu lambat !
Jika terus begitu, kami tak sabar, tetaplah kau disana dan kami akan meninggalkanmu !" ujar para cheetah kesal.

Dia menangis, dan menggumam "akupun ingin melaju pesat seperti shinkansen, akupun ingin dipandang aku bisa mengatasi semuanya, akupun tak ingin di cemoh di depan para yang lainnya. Aku pun tak ingin di anggap hanya benalu. Akupun tak ingin dianggap *hiks*" sang keong sudah tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya.

Api di matanya padam.
Ia lelah, begitu hatinya berteriak.

Tapi jiwa yang lelah itu masih ingin berjuang,
Walau perjuangan yang dilakukannya tak membuahkan hasil dalam waktu cepat.

"Kau siput yang cengceng !
Sudah lambat, cengeng lagi. Kau tak akan secepat kami jika menjadi pribadi yang cengeng." para cheetah tak berhenti menyudutkannya.

Benar, kata cheetah.
Sudahlah lambat cengeng lagi, memang sangat pantas cheetah meninggalkannya.

Si keong tetap terus melaju, dengan susah payah untuk mengejar. Ia tak bisa menyalahkan cheetah yang tak sabar dengannya.

Lihatlah para cheetah itu.
Betapa cepatnya berlari.

Si keong merasa iri. Kenapa ia sangatlah lambat dibanding para cheetah.

Bahkan dengan kekuatan supernya saja tak bisa menutupi betapa ketinggalannya ia.

Tapi wahai para keong, sudahlah lambat, dan berhenti ketika lelah bukannya akan semakin melambatkan perjalananmu ?

Tak ada yang mengasihimu karna lambat. Para cheetah tak mengerti usaha kerasmu. Di mata mereka kau tetap si lambat. Dan mungkin mereka muak, karna usahamu tak begitu terlihat. Pantas saja para cheetah menggeram tak sabar dan meninggalkanmu.

Sakit memang ditinggalkan, apalagi bagi mereka yang tak mengerti posisimu. Dan lagi apakah hidup ini tentang kasih mengasihi ?

Kau hidup di dunia buas. Lihat mata para cheetah itu membara pada buruannya. Mana mungkin mereka sempat memikirkan cara agar kau tak lambat.Yang mereka mau hanya sukses besar dalam menerkam buruannya. Jika kau tak berkontribusi pada buruan itu maka habislah kau. Tak ada harapan dan akan ditinggalkan.

Dan lihat matamu yang hanya ada sedikit bara api. Menyesakkan bukan ?

Jadi jangan menyerah hei keong.
Biar lambat.
Biar saja ditinggalkan.
Jejak jejak lambatmu masih membekas bukan ?
Kau pasti bisa mencari cara akan melaju dengan cepatnya.

Asal kau tak berhenti pada apa yang mau kau capai.
Jangan menyerah wahai si keong lambat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Webtoon The Second Marriage

Lagu dengan tema "Rumah"

Jika Kau Warna