Titik


Judul post ini diambil dari tema yang diusung oleh ig @30haribercerita.

Aku tak menulis di ig, karena aku sedang benci membuka gembok yang ada. Emang tak ada yang menarik di ig aku. Tapi ini tentang komitmen.

Berbicara titik pada tatanan tulisan yang artinya titik akan mengakhiri sebuah kalimat yang sudah disempurnakan.
Dengan titik pula, akan mengawali pencetusan kalimat-kalimat yang baru.

Jadi sebuah akhiran dan sebuah awalan.

Terdengar keren kan ?

Ketika seseorang memilih untuk mengakhiri point atau hal yang ia sampaikan. Pasti akan ada babak baru yang akan segera menghampiri.

Entah melanjutkan point yang sudah diakhiri dengan menjelaskan, atau mencetuskan point baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Semua tak akan pernah berhenti sampai bertemu satu kata "selesai" atau "tamat".
Yang artinya tidak akan selesai sampai nyawa ditubuhmu sudah tidak ada.

Salah kalau orang lain bilang sebuah titik hanya tanda mengakhiri. Maka bagi aku itu salah besar. Kamu harus sadar titik juga sebagai permulaan.
Aku jadi teringat kisah sang tangisan. Sebut saja ia seperti itu. Ia begitu mendambakan titik pada cerita yang ia tulis, ia lelah begitu keluhnya. Ia mencari-cari titik untuk mengakhiri rasa lelahnya. Dia jadi abai pada setiap pemilihan kata yang ia tulis. Masa bodoh apakah tiap kata-nya enak dibaca atau malah membingungkan.

Ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk memikirkan kata apalagi yang akan ia tulis karna sesungguhnya ia takut akan titik. Tak lama ia merasa tertarik membaca cerita orang lain, ia jadi berambisi. Untuk meniru kata tiap kata dari cerita orang lain agar menjadi kalimat yang sama. Dan ketika ia menyematkan titik pada ceritanya. Ia tersenyum senang, girang, menari-nari bahwa semua lelahnya telah berakhir.

Tapi cerita itu tak berakhir. Kekeliruan dalam pemilihan kata menjadikan kalimat pada ceritanya menyerang ia sendiri. Bumerang, itu pikirnya. Ia menitikkan air mata pada kata-kata yang ia susun, berantakan itu adalah satu kesimpulan yang paling benar. Cerita yang ia salin dari orang lain tak memberikan hasil yang sama. Ia menitikkan air mata lagi. Iri lagi. Dan membuat kekeliruan titik lagi. Dan membawanya pada perulangan, karna titik yang ia sematkan tak mengakhiri deritanya. Titik-nya membawa ia pada awalan yang sama. Karna ia tak sungguh-sungguh dalam memilih kata yang pas untuk mengakhiri kalimat-nya. Semua hanya tersisa rintikan air mata.

Maka pilihlah kata-kata yang tepat jika kamu memang ingin mengakhiri sebuah kalimat. Agar bisa membuat permulaan baru yang nyaman. Bukan malah menciptakan susunan kata yang tak pernah bisa diakhiri walau kamu menyematkan tanda titik sekalipun.

Sekian dari cerita titik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Webtoon The Second Marriage

Lagu dengan tema "Rumah"

Jika Kau Warna