Permainan Logika

Pada masa saat ini, permainan logika itu menjebak sekali, apalagi dalam syariat agama Islam. Banyak manusia memandang agama Islam itu ribet, ini gak boleh, itu gak boleh. Ketika mentaati yang sunnah sesuai Al-Qur'an dan Hadist dibilang Islam garis keraslah, wahabi lah.

Memang saat ini Islam terasa asing, jangankan bagi agama lain, bagi sesama Islam pun asing. Dan aku ngerasa itu. Jadi tersentak harus belajar lagi, mengubah diri lagi menjadi manusia yang baik bagi Allah SWT dan bukan mau dipandang baik dan bermartabat di mata manusia saja.

Banyak manusia berilmu tapi salah dalam cara berfikir-nya. Gak usah jauh-jauh, diri sendiri aja masih suka terjebak sama permainan logika itu. Yah aku mah orangnya overthinking sekali.

Waktu remaja, sering sekali terngiang oleh logika manusia lain menyatakan "Gak apa-apa, mumpung masih muda, bandel dikit gak masalah. Nanti dah tua taubat."

Sudah expert banget dia tahu takdir-nya sendiri. Yakin nanti tua-nya taubat ?
Yakin situ umurnya dikasih sampai tua ?

Atau permainan logika lainnya, "Saya belum siap berjilbab, saya masih nakal. Harus perbaiki diri sendiri dulu baru pakai jilbab."
Nah justru itu, kalau sudah pakai kan akan jadi tambah malu untuk nakal. Emang yakin nanti matinya dalam keadaan sudah berjilbab ?

Ada lagi yang lebih parah, "Yang penting saya kan sudah ibadah 5 waktu, daripada pakai jilbab tapi munafik, masih suka nakal."
Masalahnya bukan pada jilbab tapi individu-nya. Ya kalau nakal dan orangnya berjilbab itu salahnya di individu-nya bukan jilbab-nya. Dan coba belajar lagi manfaat menutup aurat. Kalau masih belum mau nerima manfaat-nya. Coba cek hukuman yang gak mau menutup aurat.

"Memang sudah harus begitu caranya, kalau gak seperti itu gak akan bisa saya diterima."
Kalau ini, logika kebanyakan umat manusia yang sudah takut duluan sebelum mencoba. Entah untuk mendapatkan pekerjaan. Untuk membeli rumah, kendaraan dengan cara riba. Seolah-olah itu jalan pintas yang harus dilalui. Allah pasti akan mengganti rejeki yang lebih baik untuk umatnya yang meninggalkan sesuatu yang dilarang. Jangan takut. Woles aja. Sabar walau perkara belajar sabar juga berat.

"Suka-suka sayalah hidup hidup saya ...... bla and blablablablabla."
Nah ini, memang tidak akan merugikan orang lain bagi dia. Tapi jika perbuatan buruknya dicontoh orang lain dan semakin banyak manusia kayak gini nih. Allah akan menimpakan musibah pada wilayah yang sudah gak bisa ditolerir lagi. Karena orang beriman jadi acuh, malas untuk menasehati sesama umat. Atau perbuatan buruknya ini sudah dianggap hal "biasa" bagi masyarakat.

Banyak sekali permainan logika lainnya.
Seolah jika dimata manusia bahwa perbuatan itu benar maka manusia yang tak tahu apa-apa akan membenarkan perbuatan itu. Padahal bagi Allah itu perbuatan tercela.

Agama hanya sebagai budaya saja. Bagi mereka yang "modren" akan selalu berdalih, "itukan di zaman nabi." Atau "mana pembuktian sains-nya.", "Ini tuh ilmu sains gak ada sangkut pautnya sama agama, apa-apa bawa agama."

Kadang suka gemes tapi jadi tamparan buat diri sendiri. "Ayoo belajar lagi yang giat, jika imanmu lemah, maka logika manusiamu yang akan mengendalikan hatimu."

Manusia bukan apa-apa tanpa Allah SWT, manusia suka merasa sok paling pintar sehingga tertutup pintu hidayah untuknya. Ada masalah sedikit melampiaskan ke hal yang tidak bermanfaat. Bagai tong kosong nyaring bunyinya. Begitu juga iman yang kosong, meronta-ronta untuk ditenangkan. Sehingga ada masalah, jadi depresi dan melakukan bunuh diri.

Semoga kita dijauhkan dari kerasnya hati.
Kalau masih minim ilmu belajar.
Di filter lagi logika manusia yang masuk. Jangan sampai terjebak. Hidup ini singkat. Mari perbanyak bekal. Dan menikmati hidup di dunia dengan melakukan hal yang bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Webtoon The Second Marriage

Lagu dengan tema "Rumah"

Jika Kau Warna