Cinta yang Sulit
Halooooo saya nulis lagi eh salah ketik ketik lagi. Kali ini temanya tentang cinta *uhuk*.
Belakangan ada pertanyaan yang mengusik relung hatiku. Ia seolah berteriak ingin di berikan jawaban yang pasti. Dan pertanyaan itu adalah "Apakah kau tak mencintaiku ?"
"Apakah kau tak mencintaku, yaitu dirimu sendiri ?"
Nah itu. Itu pertanyaan yang sedang mengusik hati. Beberapa manusia berpendapat cintailah dirimu sendiri maka kau mampu mencintai orang lain. Namun ada yang berbeda pendapat bahwa sah saja mencintai orang lain walau belum bisa sepenuhnya mencintai diri sendiri.
Nah kamu termasuk yang mana ?
Kalau aku sih setuju saja dua-duanya. Tapi yang aku banget itu sah aja mencintai orang lain walau belum mampu mencintai diri sendiri.
Terasa tak keren ya.
Tapi lebih baik 50:50 lah yah, jangan terlalu mencintai diri sendiri juga jangan terlalu benci diri sendiri. Yang sedang-sedang saja~
Kadar sedang itu yang sulit.
Kau tahu ketika seseorang terlalu over mencintai dirinya sendiri. Ada perasaan sulit menerima pendapat orang lain tentang dirinya. Seperti merasa superior gitu.
Dan kau tahu ketika seseorang terlalu membenci dirinya sendiri ada rasa seperti sulit percaya pada kehebatan dirinya dan selalu menganggap kurang dibanding orang lain. Dia sulit melihat sisi positifnya.
Pernah ngerasa yang mana nih ?
Aku sih merasa bahwa diriku ini negatif bangeeeeet. Sudahlah pendiam, kadang negatif lagi.
Seperti dua orang yang berbeda.
Waktu kecil aku ini super positif.
Semua berubah sejak negara api menyerang.
Dan sisi positif yang diperlukan untuk berevolusi menghilang.
So sad.
Dan sekarang aku lebih positif kalau perihal menulis *proud*.
Sepertinya aku butuh diberikan sedikit apresiasi.
Seperti dibelikan ice cream ketika kau berhasil melakukan sesuatu hahaha.
Tapi itu benar pemirsa, apresiasi.
Aku ini mulai tidak menyukai diri aku sendiri karena apapun yang aku lakukan itu kadang dinilai buruk atau sama sekali tak ada gunanya.
Seperti remaja labil pada umunya, eh tidak remaja labil yang seperti aku, sedikit apresiasi itu perlu. Catat perlu.
Karena aku sudah dewasa maka tidak banyak orang yang tahu apa yang sudah aku lakukan. Maka ketika aku malas nyuci dan akhirnya mau nyuci aku mengapresiasikan diri aku untuk beli yang diri aku mau saat itu.
Tapi apa yang terjadi jika itu sudah tak ampuh ?
Nah sekarang aku berada pada titik aku tak mampu menyenangkan diri sendiri dengan hadiah yang aku belikan untuk diri sendiri.
Dan itu terjadi karena faktor u dan faktor s.
U itu umur, dan S itu Skill.
Aku sudah menua.
Perihal pendidikan aku biasa aja. Gak cemerlang gak buruk juga.
Skill aku juga rata-rata aja gak spesial dan tak ada faktor ambisi dan kemauan yang kuat untuk diasah lagi.
Tapi aku frustasi karena diri aku sendiri tak punya motivasi untuk mengasah skill jadilah aku benci sama diri ini yang sudah banyak menyianyiakan kesempatan.
Aku benci ketika bicara jadi belepotan dan menyalahkan diri sendiri untuk sering bergaul.
Aku benci sama diri sendiri yang suka gak tahan pingin komentar padahal mereka gak nanya ke aku.
Aku benci aku gak bisa memberikan penjelasan yang baik dari lisanku dan itu malah membuat orang lain salah paham.
Intinya aku benci dengan segala apapun yang aku lakukan dan apapun yang aku pilih.
Ini sudah masuk jadi miris yah.
Nah sekarang dengan setumpuk kebencian itu, aku sulit mencintai diri aku sendiri. Ketika ada orang lain bilang dia segitu mencintai aku, aku ngerasa hampa aja. Kayak masa sih ?
Gimana nanti kalau aku dah keriput, gimana nanti kalau dia tahu aku ini gak asik. Gimana kalau dia bosan sama aku dan bla bla bla lainnya yang membuat aku gak percaya rasa cinta dia akan bertahan karena aku gak percaya diri untuk berhak dicintai.
Ini sulit, cinta yang sulit itu adalah mencintai diri sendiri.
Mungkin ketika kau mencintai manusia lain walau dia tak mencintaimu balik tapi asalkan dia bahagia itu juga akan membahagiakanmu. Dan kau bisa move on untuk mencoba mencintai manusia yang lain yang pada akhirnya dia mencintaimu juga.
Tapi jika ia adalah dirimu sendiri.
Monster itu benar-benar sulit dikalahkan. Kau menang sekali namun harus menerima kepahitan kau kalah berkali-kali.
Wahai monster negatif, aku gak nyerah kok, aku masih berjuang. Walau sulit dan kalah berkali-kali, setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali.
Komentar
Posting Komentar