Api
Ibu bilang jangan bermain api nanti terbakar.
Kira-kira seperti itu.
Api, jika ia adalah lambang di hatimu, sedikit percikan saja bisa membakar seluruh akal sehatmu.
Entah itu karena sedang stress, bosan, tertekan, cemburu, marah.
Kau merasa tak bisa melihat warna lain selain warna merah menyala.
Kau tak suka ada percikan sedikitpun karena kau akan langsung meledak-ledak tanpa ada pemadamnya.
Kenapa kau menjadi api ?
Elemen dalam hidupmu sungguh rumit.
Aku khawatir kau terkena penyakit kejiwaan.
Kau akhir-akhir ini benci sekali ada percikan dan kau merasakan kesakitan sendiri karena kobaran apimu yang semakin tak terkendali.
Aku tahu kau jenuh.
Aku tahu kau frustasi karena jenuh.
Tapi tak bisakah kau menenangkan jiwamu dan tak menunjukkan ketidaksukaanmu ?
Kau terlalu ekspresif.
Hentikan, kenakan topeng sandiwaramu dengan benar.
Api salah satu hal yang tak disukai orang lain.
Terlalu panas, mereka enggan dekat.
Terlalu menyala, mereka enggan melihat nyala warnamu.
Kau bukan bintang yang terlihat cantik jika memperlihatkan aura panasmu.
Kau malah akan dianggap sesuatu yang harus dihindari, dipadamkan karena merusak dan mengganggu.
Jagalah apimu agar lebih bersahabat.
Bukan kau saja yang ingin dimengerti, jangan manja, di dunia ini ada milyaran makhluk hidup yang punya hak dan kewajibannya masing-masing. Jadi bukan hanya kau saja makhluk hidup yang merasa frustasi.
Kendalikan apimu, agar tak menyakiti orang lain juga dirimu sendiri. Agar kau terselamatkan. Agar kau tak tersakiti dengan apimu sendiri.
Komentar
Posting Komentar