Pencarian Jati Diri
Hai hai, kembali lagi menulis.
Kali ini aku ingin berbagi kotak pikiranku kedalam tulisan, tema kali ini adalah *jeng...jeng* sesuai judul hahaha yaitu pencarian jati diri. Tulisan ini akan sangat panjang, mungkin yang baca selain aku akan cepat lelah wkwkwk. Tapi aku tetap akan menulisnya.
Aku adalah orang yang termasuk suka kepo akan banyak hal.
Sampai kadang-kadang kepala mau pecah sangking gak bisa menemukan jawabannya.
Ini menunjukkan kemampuan manusia itu memang ada batasannya, kalau gak ada batasannya, sepertinya manusia akan banyak yang kurang ajar menentang penciptanya, seperti di anime perang antara manusia dan penciptanya atau dewa lah yah, karena itu anime, dan Jepang percaya akan adanya dewa.
Manusia itu, dibatasin aja sudah banyak yang kurang ajar kok.
Pertama-tama, karena aku adalah muslimah dari lahir, dan yang pasti beragama Islam. Agama ini aku dapat karena diwariskan oleh orangtua dan yang pasti aku cukup beruntung lahir sudah dalam Islam dan di negara yang mayoritas Islam.
Tapi bukan berarti aku muslimah yang sempurna, bukan.
Justru aku fakir ilmu, dan terkadang ilmu yang sedikit ini membuat aku sedikit arogan. Astagfirullah.
Dari kecil aku selalu penasaran, Allah itu siapa ma ? tanyaku, dan ibu gelagepan gak tahu harus jawab apa hanya bisa jawab bahwa beliau itu penciptamu, yang menciptakan seluruh alam semesta.
Tapi itu gak berhenti disampai situ, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang terkadang terkesan aku itu siapa, kenapa aku bisa mengendalikan tubuh ini, apa orang lain juga merasakan seperti yang aku rasa, seperti terasa peran utama dalam sebuah film ?
Agama itu apa, Islam itu apa, apa bedanya dengan agama lain ?
Ketika aku kecil, semua terasa abu-abu, tentang siapa aku itu, untuk apa aku lahir, keluarga bukan yang terlalu mendalami Islam. Jadi seperti banyak potongan puzzle yang berserekan yang harus disusun, bahkan seseorang yang lahir dalam agama Islam saja mempertanyaan jati dirinya siapa. Gimana yang keluarganya bukan Islam. Ditambah ketika SD aku masuk ke sekolah biasa, sekolah negeri di dekat rumah, kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintahan. Makin bingung lagi aku siapa, antara sejarah Islam dan teori Darwin bertabrakan banget, membuat aku makin banyak tanya. Terus aku waktu kecil suka natal, karena acara di TV itu beragam banget dan termasuk banyak hiburan untuk anak-anak.
Dan makin banyak pertanyaan lagi, santa claus itu siapa, dan apa hubungannya sama agama Kristen, bukannya tuhan mereka Yesus ?
Tapi kenapa santa claus yang atributnya paling banyak diperlihatkan ketika natal ?
Dahulu aku selalu berharap jadi anak baik biar dapat hadiah juga, dan aku malah pernah ngira, ooh mungkin sosok Yesus kali yah.
Tapi tentang Islam sendiri aku cukup beruntung, setidaknya tidak terlalu clueless banget, jadi aku tumbuh gak sesat banget.
Aku tetap masuk TK yang Islami.
Ortu tetap mendatangkan guru belajar baca Al-Quran dirumah buat aku dan abang-abang dan akhirnya anak tetangga juga pada ikut belajar dirumah.
Saat SD kelas 5 kalau gak salah, aku masuk MDA (Madrasah Diniyah Amaliyah) sampai kelas 6, pendidikan itu seharusnya berjalan 4 tahun tapi karena waktu SMP sekolah jauh banget dari rumah aku mutusin gak meneruskan, jadinya waktu SMP aku makin bandel.
Waktu SD, pakaian aku sopan lah yah, mengikuti standarisasi sekolah yang ada, dan aku mulai pakai kerudung ke sekolah waktu kelas 4, ketidaksengajaan ini mah, dulu waktu kelas 4 aku minta dibuatkan seragam yang tangan panjang dan rok panjang, tapi gak pakai kerudung, dijalan waktu pulang sekolah ditanya ibu-ibu gini.
Buk ibuk : "Nak, kerudung-nya mana ?
Kok gak dipakai ?
Walau sudah pulang sekolah kerudung tetap dipakai sampai rumah yah."
Aku : ".......eh iyah buk."
Sampai rumah mikir, iya sih memang nanggung jadinya kalau gak pakai kerudung, terus setelah itu minta ke mama buat beli kerudung buat dipakai ke sekolah, tentunya dengan dicerca pertanyaan seperti sudah siap gak pakai kerudung, yakin ini mau pakai ?
Mulai SMP, baju tetap standarisasi sekolah, tapi aku lepas kerudung, hanya pakai kalau ada pelajaran agama aja, kan maen bejatnya.
SMA juga gitu, disaat aku shock teman SMP ada yang mutusin pakai kerudung dengan alasan karena kalau pakai rok span pendek dia kelihatan jelek, tapi awal yang bagus yakan mulai pakai kerudung.
Tapi karena lama kelamaan di kelas 1 karena keterusan pakai kerudung walau bukan ada pelajaran agama mulai kelas 2 SMA aku mutusin untuk benar-benar pakai kerudung, tentunya itu hanya disekolah, kalau keluar main juga apa itu kerudung, tapi perlahan-lahan walau mau keluar main juga tetap pakai kerudung.
Lalu aku mulai penasaran akan Islam ketika SMA lagi, mulai ngulik lagi, aku yang sudah lebih dekat dengan internet sejak SMP kelas 2 maka ketika SMA melakukan pencarian di google bukan hal yang sulit. Menurutku kadar iman aku itu kayak susah banget naiknya, tapi ketika jatuh langsung terjun gitu, dan jadi susah lagi naiknya. Mulai banyak yang disesali tapi masih sulit lepasnya.
Ada yang bilang memang belajar itu perlu perlahan-lahan, dan aku seperti itu, seperti keong yang bergerak secara lambat.
Ketika aku sudah mulai menerima bahwa oh, ternyata agama yang aku anut ini memang sempurna, disitu aku baru merasa kalau aku menerima agama ini sepenuhnya, setidaknya aku merasa dari kecil sudah punya iman walau sekecil 1 butir pasir. Aku bersyukur untuk tetap kepo sehingga tidak menjadi manusia yang merugi.
Ketika makin diulik semakin banyak kutemukan kesalahan-kesalahan perbuatan pada aturan yang Allah tetapkan. Awalnya kayak kaget banget, ternyata aku setidak tahu itu, padahal aku lahir sebagai muslimah, tapi soal ilmu, fakir banget. Tantangan selanjutnya ketika sudah tahu ilmunya, sanggup tidak bener-benar menjalankan sesuai perintah ?
Mau tidak mau, suka tidak suka, percaya pada Allah itu adalah hal dasar pada iman, masalahnya manusia itu tidak sempurna, tempatnya salah. Dan kadang seperti kembali tersesat, aku ketakutan Allah kecewa melihat sikapku yang imannya naik dan turun, aku takut Allah menarik hidayahnya untukku dan aku takut meninggal dalam kemaksiatan, Naudzubillah.
Selama aku masih hidup, pencarian jati diri akan terus berlanjut.
Kadang suka iri melihat orang yang pindah ke Islam, lebih Islam dibandingkan yang lahir sudah Islam.
Tantangan mereka berat, tapi yang lahir sudah Islam bukan tidak ada tantangan.
Buktinya saja aku, aku masih sering tersesat di dunia, karena Islam yang mayoritas ini hanya seperti sekedar nama, sudah seperti hilang akan asalmulanya.
Puzzle yang diterima hanya sepotong-potong menjadikan pemeluk yang mayoritas ini merasa tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Memalukan, menyesakkan.
Tapi ingat, jika tidak bisa berlari, berjalanlah perlahan.
Jika tidak bisa langsung berubah total, pelan-pelanlah dan terus minta bantuan pada Allah yah.
Aku tahu kamu malu, tapi tetap berjuang ya.
Memang akan banyak yang menuntut kesempurnaan, tapi ingat kamu manusia, biar Allah yang memutuskan.
Komentar
Posting Komentar