Hati yang Terombang-ambing
Di tengah lautan, ada perahu kecil yang sedang terombang ambing.
Sang pemilik perahu terlihat kebingungan, menggeledah seisi perahu. Barangkali ada cukup bekal untuknya bertahan hidup.
Berkali-kali ia mengecek mesin perahunya. Tapi tak juga menyala. Ia tak mau cepat putus asa, ia terus mencoba dan mencoba.
Namun sayang nasib baik tak berpihak padanya.
Mesin itu rusak dan mati total.
Kini ia terombang-ambing di lautan luas tanpa tujuan.
Hanya ombak dan arah angin yang menuntunnya.
Ia adalah seorang yang buta arah, atau bisa dikatakan ia adalah orang yang tidak tahu kemana arah tujuannya, yang diinginkannya hanya segera menaiki perahu dan pergi sejauh mungkin.
Ketika pergi dengan perbekalan yang dikatakan minim.
Ia hanya bergumam "Untung saja aku dikasih perbekalan sama kerabat."
Kasihan sekali, itulah akibat ulah melarikan diri, sudah tahu ingin melarikan diri, kenapa malah tidak menimbun perbekalan yang banyak.
Ketika ia memilih menjadi nahkoda pada perahunya, artinya diri sendiri yang bertanggung jawab atas hidup dan matinya.
Tapi tetap saja, ia merasa sepi dan sedih berada dilautan luas sendiri dan bergumam, "Sebenarnya apa yang kulakukan ?".
Anehnya, pada awalnya, semua terasa bebas dan menyenangkan, rasanya udara yang selama ini membelenggunya hilang, ia bisa bernafas dengan tenang dan bebas tanpa tahu bahwa sebenarnya mungkin dalam hati orang yang melepaskannya senang karena sudah membuang beban penumpang pada kapalnya.
Beban yang tidak berguna kan ?
Dia tidak menyadari bahwa dia seakan dibuang, karena perlahan apa yang dilihatnya sebuah kasih sayang semakin dipertanyakan.
"Heiii, aku dibelikan solar loh sama nahkodaku !" itu isi pesan pada botol yang ia ditemukan.
Ia mulai bertanya, berapa kalikah dia dibelikan, karena dalam sepuluh jarinya, ia merasa berbeda dengan seseorang dalam surat botol itu, karena ia masih bisa menghitung dengan jari, bahkan tersisa banyak.
"Heiii, aku dibelikan alat untuk perahuku loh !" seru pesan lainnya, yang ia juga tahu bahwa kok bisa ?
Dia kan juga menaiki perahunya sendiri, kenapa masih dibelikan ?
Bahkan ia merasa tidak pernah ditanya apapun, yang ia tahu bahwa nahkodanya selalu menyalahkan atas satu perkataannya.
Ia lelah, di lautan luas seorang diri, ia lelah.
Mesinnya mati, dan ia tidak bergerak sedikitpun untuk menemukan arah tujuannya.
"Apa itu arah ?, aku tak tahu." gumamnya.
Ketika melihat bintang dilangit, ia merasa, selama ini apasih yang ia cari dari usaha melarikan diri.
Kebebasan ?
Kapal baru ?
Ingin disemangati ?
Dia tertawa, bodoh sekali, pikirnya.
Ia iri, pada penumpang pada kapal yang lain, kenapa nahkoda mereka terasa hangat ?
Ia tidak bisa merasakan perasaan itu.
Tapi iri saja, makin membuat ia merasa lebih bodoh.
"Memang kenapa kalau lelah dengan perahu ini ? Bukankah artinya aku lebih kuat dibandingkan orang lain ? Karena aku lebih lelah ! Aku lebih sendiri ! Aku ............"
Bodoh sekali.
Ia tidak lebih baik dari siapapun, Ia sama buruknya dengan orang lain.
Ia tidak menyadari bahwa terkadang memaksakan usaha untuk bertahan seorang diri juga ada batasnya.
Ia sendiri buta arah.
Ia sendiri merasa tersiksa.
Sungguh bodoh sekali.
Karena terbiasa sendiri, Ia merasa lebih nyaman dengan perahunya sendiri.
Terombang-ambing dengan tidak jelas.
Bahkan ia tidak tahu bagaimana caranya mencari penumpang pada perahunya, atau bagaimana cara memperbaiki mesinnya, atau bagaimana cara dia bisa menerima orang lain untuk meninggalkan perahunya, ia memang bodoh sekali.
Komentar
Posting Komentar