Review Film Thai Happy Old Year

Telat yah baru review, hmm karena baru nonton pas Maret hehe, dulu gak sempat cari ilegalnya, btw tulisan ini mengandung SPOILER !

Waktu dulu lihat trailer-nya dah ingin nonton, tapi baru nonton di Maret.
Terus aku harus kelarin ini review mengingat bentar lagi pergantian tahun dan masih merasakan namanya happy old year wkwkwk.


Okeh mari mulai, Jean ingin merenovasi rumahnya, dia punya prinsip untuk hidup minimalis, dimana hanya ada barang yang dibutuhkan saja, jadi rumah berasa lebih lega, rumahnya sebelumnya itu penuh dengan barang-barang yang gak dipakai numpuk-numpuk buat gak enak dipandang mata saja. 

Background Jean lulusan arsitek yang pernah kerja di Swedia, dia juga ingin menyulap rumahnya jadi kantornya sekaligus tempat tinggalnya, dia tinggal bertiga dengan Ibu, adik, dan dirinya. 

Awal film, kita akan diperlihatkan sosok Jean yang diwawancari dengan rumahnya yang berhasil di renovasi, lalu si pewawancara bertanya kurang lebih, "Apakah semua barang-nya dibuang ?"
Jean menjawab iya hanya ambil barang-barang yang penting saja, dan barang yang gak penting dibuang, si pewawancara juga meminta saran cara membuang barang, lalu masuklah ke segment sebelum terbentuknya rumah dan kantor Jean yang minimalis.

Nah, diceritakan step-nya ada 6 guys.

Di awal cerita, Jean berbincang dengan Pink temannya, bahwa merenovasi rumahnya itu bukan perkara mudah, terlebih lagi ada ibunya yang sangat sayang sama barang-barang yang ada di rumahnya, perdebatan tak bisa terelakkan lagi, walau berhasil menghasut adiknya untuk setuju, dan adiknya juga jadi belajar konsep minimalis. Di awal film kita akan di suguhkan sosok Jean yang keras kepala, kalau dia sudah memutuskan A, maka A itu harus terwujud.

Jean yang telah lama bekerja di Swedia, yang terinspirasi hidup minimalis, ingin menerapkan segera dihidupnya dari mulai cari referensi di toko buku. 
Keinginan Jean dengan keadaan rumahnya itu berbanding terbalik, rumah Jean bagaikan gudang dengan segala tumpukan barang gak berguna ada dimana-mana.


Pada bagian ini ada kalimat yang ngena di aku "Aku tak akan pulang jika tidak terpaksa."
Sepertinya Jean merasa betah-betah aja kerja di Swedia tapi tidak dijelaskan kenapa dia harus pulang.

Dari step awal ini, Jean mulai membujuk adik dan ibunya untuk diperbolehkan renovasi rumah.
Tentu saja watak sang ibu mirip dengannya yang keras kepala, ngena banget ketika sang ibu info "Ini rumahku". Seolah mengatakan apa hak sang anak dengan merubah isi rumahnya.

Tapi bukan Jean namanya kalau nurut kata ibu, walau tanpa adanya persetujuan pasti, Jean benar-benar bertekad untuk renovasi rumah.

Step 1 : 
"Tetapkan Tujuan dan Cari Inspirasi"
Jean sudah punya tujuan, yaitu membuat rumahnya jadi kantor sekaligus rumah, sewa kantor itu mahal, jadi cara paling cepat untuk bisa kerja sama dengan tim design yang lain harus segera punya kantor, dimana interior kantornya juga akan menjadi nilai jualnya tapi tenggat waktunya adalah 1 bulan, jiwanya untuk segera do action sangat memuncak demi karir.

Ini adalah tahap awal hidupnya "berbenah".

Step 2 :
"Jangan Mengingat Masa Lalu"
Dalam perkara berbenah, tidak boleh memakai perasaan, dimana ini termasuk tahap yang sulit.
Ketika ada suatu barang yang berharga pasti kita akan teringat kenangan atas barang tersebut, yang membuat kita jadi sulit untuk membuangnya padahal dipakai / digunain aja enggak.

Di tahap ini Jean benar-benar tanpa perasaan membuang apapun.
Baginya barang itu harus segera dibuang agar tidak menjadi beban pikiran.

Scene tentang piano juga cukup dalam menurutku, dimana Jean ingin membuang piano tapi sang ibu tidak ingin, menurut Jean itu barang tidak berguna yang makan tempat dan tidak ada yang memakainya lagi karena ayah Jean yang sering pakai piano itu.

Ibu Jean yang masih terjebak pada masa lalu merasa marah, bahwa piano itu sangat berharga untuk dibuang dan berdalih dialah yang akan menggunakannya.

Jean yang keras kepala merasa kenapa terlalu emotional perkara barang aja, terlalu emotional itu merepotkan.

Tapi Jean lupa, bahwa manusia itu memang tempatnya sesosok yang emotional walau terlihat dingin, manusia tetap punya perasaannya sendiri.

Step 3 :
"Jangan Terbawa Perasaan"
Okeeh, ketika sudah teringat masa lalu, baik itu indah atau menyakitkan tetap harus berfikir jernih dan bijak jangan sampai jadinya terbawa kenangan masa lalu itu.

Pada tahap ini prinsip Jean akan kena angin kencang dengan seonggok barang punya sang mantan dan kemarahan temannya. Jean yang terlihat dingin bersiap membuang apapun akan mulai kepikiran.

Awalnya dia yakin sekali akan membuangnya, bahkan temannya Pink merasa, sayang banget dibuang gitu aja, padahal bisa disumbang, bisa dijual dan menghasilkan uang dari pada dibuang sia-sia dan ketika temannya marah karena barang pemberiannya akan dibuang dan Jean yang tidak sadar berceloteh bawah barang itu tidak berguna jadi pantas dibuang.

Pink sakit hati dan marah pada Jean, dan inilah angin kencang buat Jean.
Bagi Jean, dia tidak bisa menyimpan semua barang pemberian orang lain, pada akhirnya juga akan dibuang.

Pink yang merasa tidak dihargai atas barang pemberiannya merasa Jean katerlaluan, kan bisa aja barang itu dibalikin ke orang yang memberi dan menginformasikan bahwa dia sudah tidak membutuhkan barang itu lagi.

Ketika malam hari, Jean menelfon Pink, dia tidak mengatakan maaf sekalipun dia merasa bersalah.
Pink menasehatinya dengan mengatakan bahwa dia tidak berubah sama sekali, ketika bersalah dan menelfon gitu aja seperti tidak terjadi apa-apa. Pink bertitip pesan untuk lebih berperasaan. Setelah itu Jean-pun meminta maaf ke Pink.

Lalu ada pesan mendalam dari Pink "Sebagian hal tak akan menghilang hanya karena kau pura-pura melupakannya. Kedua pihak harus lupa agar bisa berakhir."

Step 4 :
"Jangan Goyah. Buang Perasaan"
Jean yang terkena badai muali goyah pada tujuannya, mulai mempertanyakan 
"Apakah prinsipku benar ?
Apa aku memang sedingin itu ?"

Jean menatap dengan bingung pada tumpukan sampah yang dibuangnya.


Perlahan kang loak menghilang dengan tumpukan sampahnya, Jean yang goyah mulai berlari mengejar sampah yang pada awalnya dianggap tidak berguna, akibatnya apa ?


Benar, tumpukan itu kembali datang padanya, menggunung serasa ingin menenggelamkannya.
Ketika Jean mulai memilah lagi dari tumpukan sampah itu, dia mendapati syal yang dibuat olehnya untuk adiknya itu dibuang, Jean kaget dan saat itu baru memahami perasaan Pink temannya ketika melihat barang pemberiannya ada pada tumpukan sampah.

Akhirnya Jean mulai mencoba menghubungi teman atau siapapun barang pemberian atau barang yang belum dikembalikan untuk diberikan kembali pada pemilik barang.

Pada awalnya, Jean mandapatkan response yang positif, yang membuatnya kembali berfikir apa yang dilakukannya kali ini pasti benar.
Tentunya barang yang ada padanya tidak semua orang masih berhubungan baik dengannya, 
Contoh dengan Bam, hubungan mereka buruk tapi Jean tetap berusaha untuk mengembalikan barang miliknya yang awalnya ditolak mentah-mentah dan disuruh dibuang saja.

Jean kembali mempertanyakan pilihannya.
Lelah, capek, bingung apakah dibuang saja atau tidak, tapi dia mencoba meninggalkan barangnya begitu saja dan memantau apakah Bam akan mengambilnya atau tidak, beruntung Bam bersedia mengambil barangnya walau hubungan mereka tidak bisa diperbaiki.

Karena hal itu, Jean bertekad mengembalikan barang milik sang mantan dengan mengirimkannya dengan kurir barang, yang padahal rumah mereka berdekatan.
Sang kurir bingung dan awalnya menyarankan dia bisa mengantar barang itu sendiri dengan berjalan wkwkwk. Tapi karena Jean keras kepala jadi barang itu akhirnya tetap dikirimkan via kurir.

Jalan pulang Jean bertemu dengan pria yang sudah kelihatan tua, dia adalah kolektor barang antik yang menawarkan untuk menjual barang yang ada di mobilnya untuk dijual padanya. 
Tapi karena barang itu tidak dijual, sang kolektor-pun meninggalkan kartu nama jika saja Jean ada barang antik lainnya yang bisa dijual padanya.

Scene selanjutnya Pink membawa paket untuk sang mantan dilempar ke Jean.
Sang mantan tidak ingin menerima paket tersebut, Jean menatap dan merasa suntuk banget.

Jean yang lelah mulai berceloteh "Katamu, mengembalikan barang bisa menyelesaikan masalah".
Tapi Jean lupa, bahwa dia ada permasalahan yang belum selesai dengan sang mantan, dimana itulah kebiasaan buruknya yang menghilang tanpa minta maaf, tiba-tiba kirim paket ngembalikin barang ?!
Tentu saja itu keterlaluan wahai Jean.

Pink-pun bilang "Mencampakkan seseorang tidak sama seperti membuang barang".
Percakapan dia dan Pink, membuat Jean mencoba menemui sang mantan.

Ketika memencet bel, Jean merasa "Apa aku gila ?!" langsung berusaha kabur tapi telaaat haha.
Sang mantan yang melihat punggung Jean perlahan pergi memanggil namanya.

Dan Jean mulai meminta maaf, sang mantan ingin memotong permintaan tersebut.
Tapi Jean bersikeras untuk meminta maaf, dan Aim sang mantan mendengarnya sampai selesai tanpa memotong apapun.

Ketika Jean selesai ngobrol, Aim masih tetap diam, Jean merasa makin gak enak hati, karena tidak ditanggapi. Aim dengan sopan, mengatakan senang bertemu dengannya jadi mana mungkin membentaknya.

Siap-siap wahai penonton badai kehidupan Jean akan sangat kuat menerjang.

Lalu Aim, menawarkan sup jagung buatannya di rumah Aim.
Mereka ini kayak satu passion, yang kerja di bidang yang sama, interior minimalis yang sempat dicari-carinya ternyata ada di rumah sang mantan.

Aim ternyata sudah memiliki pacar, pacarnya keluar dari kamar dan memakai baju yang ternyata itu baju Jean ?!
Pacarnya gak tahu dan pede aja gitu ngobrol pakai baju Jean dihadapan orangnya langsung.
Wah Aim kamu parah Aim.

Tapi Jean gak ambil pusing dan mengajaknya juga makan bersama.
Jean melihat keadaan rumah Aim, yang dimana masih ditemukan jejaknya pada rumah itu.
Awalnya Jean merasa lega tapi juga menyalahkan dirinya yang jahat kepada Aim, dia sadar ternyata masih ada benih-benih perasaan pada Aim.
Jean-pun berkata "Emosi itu melelahkan." Kamu benar Jean, emosi itu melelahkan, tapi kadang terlalu mati tidak beremosi juga seperti kehilangan makna akan hidup. Hidup tidak, mati juga tidak.

Jean merasa tak akan mungkin bertemu dengan Aim lagi.
Seperti merasa lega, Jean tanpa sadar menaruh bom tanpa waktu ke Aim, dimana bom itu berisi kenangan buruk, perasaan cinta mendalam dan benci sekaligus, ingin mengutuknya tapi juga menyayanginya.

Dan Jean, kamu ingin menghilang setelah meminta maaf ?!
Tidak semudah itu ferguso, karena ternyata kamu masih harus berurusan dengan Aim lagi.

Mendengar desas desus bahwa Jean sedang mengembalikan barang teman-temannya, 
Seorang teman yang akan segera menikah dengan kekasih hatinya dari zaman sekolah meminta Jean mencarikan potret kenangan mereka semasa sekolah buat diperlihatkan di pernikahan mereka.

Jean merasa kayak, males banget nyariin photo pada tumpukan CD photo seabrek, awalnya dia mau langsung bohong tanpa nyari tapi hati nurani membuat dia tetap mencarinya.
Tidak lama kemudian Aim menelfon dan mengajak bertemu dan makan malam.

Aim tidak sendiri, yaitu bersama pacarnya, dengan membawa berkardus-kardus barang Jean yang ada di rumah Aim wkwkw.

Step 5 :
"Jangan Tambah Barang Lagi"
Sudah niat buang barang malah ditambahin barang ?!
Jean tersenyum kecut, sambil menjelaskan bahwa dia tidak marah dan mengerti memang barang yang tidak dibutuhkan harus dibuang.

Aim mendengarnya tersenyum sayu, dan mereka ngobrol dengan nostalgia cuy di depan sang pacar Aim ! Aku akan merasa gerah banget dan tentu saja gak nyaman jika berada di situasi tersebut.

Mengetahui bahwa restorant tempat Aim selalu ngajak pacar barunya makan itu ternyata tempat kesukaan Jean dan Aim, dia agak berusaha mengerti dan ciut.

Sampai di rumah, barang dari rumah Aim, dia ingin seolah tidak perduli dan langsung akan membuangnya gitu aja, tapi rasa penasaran mengalahkan sok tidak pedulinya.
Dia menerima kartu ucapan selamat tahun baru dari ibu Aim yang dulu tidak pernah sampai tapi baru diterima saat itu, dan mencoba bertanya kabar ibunya tapi ternyata ibunya sudah meninggal.
Merasa terkejut, Jean merasa kenapa Aim gak bilang.

Lah Jean, kan kamu yang menghilang, apa hakmu toh ?
Speechless moment banget wajah Aim ketika Jean bilang "Kenapa tidak menghubungiku ?"
Lihat-lihat...
Sakit banget ketika Aim bilang "Aku harus melupakanmu. Aku harus melaluinya sendirian. Tak boleh menghubungimu".
Terus dilanjut, "Saat ada kabar baik, aku sangat ingin meneleponmu, tetap tidak bisa. Saat ada kabar buruk dan tak ada orang lain aku pun tak bisa meneleponmu. Kartu tahun baru dari ibuku untukmu tak bisa kukirimkan kepadamu atau kubuang, terpaksa kusimpan di laci. Aku sangat kesepian, aku hanya berpikir aku harus melangkah maju."

Jleb banget asli, Jean kamu dengan kecemasanmu, membunuh perasaanmu sendiri dan memilih melarikan diri, dan Aim yang merasa ditinggalkan tidak punya pilihan lain selain berjalan sendirian dengan rasa sakitnya.

Jean mengatakan bahwa dia disini sekarang. Tapi Jean itu basi banget, sudah telat Jean, Aim hanya makin terluka denganmu, setelah dulu meninggalkannya begitu saja.
Pacar Aim melihat mereka ngobrol dan membiarkan mereka mengurus permasalahan mereka yang terkubur lama, disini sebagai mba pacar aku pasti merasa hanya sebagai pelarian saja karena sesungguhnya Aim sangat mencintai Jean dan karena kesepian Aim butuh seseorang disampingnya.

Mba pacar justru tidak mengenal sosok Aim yang didepan Jean, dia terlihat bijak dan dewasa walau pasti dalam hatinya sungguh bete.

Masih seputar photo yang dicari Jean, ketika tidak ada dirumah Jean berarti mungkin ada file-nya di Aim, dan nostalgia kembali, diperlihatkan photo masa lalu serasa mesin waktu tapi dengan keadaan yang sudah berubah dan tak bisa diperbaiki, awkward banget.

Dan pacar Aim melihat photo, dimana Jean mengenakan kaos yang dipakainya waktu pertama kali bertemu. Kapok kamu Jean, secara tak langsung merusak hubungan mereka berdua yang memang kelihatannya tidak sehat.

Aim yang merasa agak canggung, menyuruh Jean copy aja file-nya karena dia akan pindah ke Singapura, merasa ditinggalkan, Jean menanyakan kenapa dia tiba-tiba pindah, dan menanyakan nasib pacarnya bagaimana ?
Aim info bahwa tentu saja dia ikut.

Lalu tidak lama, photo yang dicari-pun ketemu.
Terlihat seperti photo biasa saja yang kapan saja bisa dihapus, tapi Aim masih menyimpannya.
Bertolak belakang banget-kan dengan Jean yang senang main hapusin semuanya.
Yang ternyata terlihat biasa saja itu dimasa depan jadi berharga dan dicari.

Aim bertanya, kenapa tidak dibawa saja HDD-nya, Jean seperti menyindir ke Aim tidak usah, kan dia yang pintar menyimpan dibandingkan dirinya.
Tapi Jean mulai melihat sesuatu kenangan pada barang itu tidak buruk juga, kenapa harus kejam sekali membuang semuanya ?
Prinsip Jean seperti hampir berubah sebelum badai kembali menerjang.

Adik Jean menemukan photo keluarga-nya dimana dalam photo tersebut keluarga mereka terlihat hangat bahkan Jean sudah lupa, apa pernah sehangat itu ?

Masih ada 1 masalah lagi, yaitu piano ayahnya, apakah akan benar dibuang ?

Step 6 :
"Jangan Lihat Masa Lalu"
Jean berusaha untuk melihat design interior dengan piano bekas ayahnya.
Hasilnya piano itu mengganggu pemandangan.

Jean mulai menghubungi kolektor barang antik, untuk mencoba menjual yang bisa dijual karena dia butuh uang tambahan buat renovasi rumah.
Sang kolektor terlihat tertarik pada piano ayahnya, dan Jean masih ingin menyimpannya belum mau menjualnya. Mengingat perkataan sang adik, Jean mencoba menghubungi ayahnya, karena pada masa lalu dia bukan orang yang seburuk itu dan dia tidak ingin terus melarikan diri.
Tapi apa ?
Ayahnya bahkan tidak mengenali Jean, acuh padanya, usaha dia tidak untuk melarikan diri malah membuka luka lama yang teramat sangat sakit.
Jean mulai kembali menjadi dirinya, untuk apa memikirkan perasaan orang lain, kalau langsung dijual saja itu piano tidak akan lagi dia merasakan sakit.

Jean membicarakan piano tersebut ke ibunya, dimana ibunya yang ditinggalkan masih tetap berharap pada mantan suaminya, mengharapkan dia kembali dan ibunya marah ketika Jean masih saja berusaha menjual piano tersebut.
Diakhir Jean menginformasikan, "Aku tak mau melihat ibu kehilangan arah seperti ini, jika tak berusaha melupakan, kita tak akan pernah bisa".
Tapi bukan ibunya Jean kalau tidak keras kepala, ibunya kurang lebih begini, jika kamu mau melupakan mah ya kamu aja, jangan nyuruh-nyuruh saya, hak saya yang menentukan akan melupakannya atau tidak.

Masalah belum selesai, masih ada sang mantan, dimana pacarnya menemui Jean ketika dia sedang mencari barang temannya.
Pacarnya mengembalikan kaos saat pertama kali mereka bertemu, dia mengatakan bahwa Aim tidak pernah bilang bahwa itu kaosnya Jean, dan sekarang dia mengerti arti tatapan mata Jean ketika mereka pertama kali bertemu.

Mi nama pacarnya, info bahwa mungkin ini terakhir kali mereka bertemu dan bilang bahwa dia tidak ikut ke Singapura yang dalam artian dia putus dengan Aim.
Jean merasa bersalah karena sepertinya dia telah merusak hubungan mereka.
Mi akhirnya jujur, bahwa dia yang menolak kiriman paket itu yang berakibat mereka malah bertemu, Mi jujur dia takut kalau Jean kembali tapi malah dia sendiri yang merusaknya, dan dia membenci mereka berdua, tetapi dia sadar bahwa Jean hanya ingin meminta maaf.

Jean merasa berkali-kali lipat bersalah, dan menemui Aim yang tengah berberes barang-barang Mi, jika sewaktu-waktu dia akan mengambilnya.
Jean merasa heran kenapa diberesin, dengan enteng Aim kayak bilang, kan kamu yang ngajarin lepaskan semua yang tidak dibutuhkan.

Jean menyuruh Aim untuk berbaikan deminya tapi Aim berkata, tidak itu mah demi dirimu dan bilang:
"Kau mengembalikan barangku demi dirimu
Kau meminta maaf kepadaku demi dirimu
Kau mau aku bersama Mi demi dirimu, agar kamu bebas dari rasa bersalah."

Lalu Aim jujur, bahwa ketika Jean datang meminta maaf, dia marah dia juga mengatakan, seolah-olah setelah kamu meminta maaf maka kamu bebas, serasa menerima beban untuk memaafkan.
Terus dia bilang, "Jika aku tak memaafkanmu, itu masalahku bukan masalahmu lagi. Seolah-olah kau membuang seluruh rasa bersalahmu kepadaku, lalu pergi begitu saja".

Terus Jean bilang, ya aku minta maaf karena peduli padamu, lalu Aim dengan tegas, sebaiknya ya jangan, hiduplah dengan rasa bersalah itu.

Sadis sih, tapi aku mengerti perasaan Aim.
Jean masih bersikukuh bukankah itu terjadi di masa lalu ?
Seharusnya kamu melupakannya, like bruhh ? emangnya gampang ?

Lalu Aim dengan pedasnya, kau tahu itu tak akan mudah jika kau mencintai seseorang, apakah kamu pernah mencintai ?
Kayak dipertanyakan gak tuh rasa cinta Jean yang dulu kepadanya.

Lalu Jean menyesal, seharusnya dia memang tidak datang.
Lalu Aim seolah bilang, Jean seharusnya kamu tetap menjadi pribadi yang egois, yang hanya mementingkan hal yang bermanfaat untukmu saja, akui saja, semua orang juga hidup seperti itu dan kau tidak harus memperdulikan orang lain.

Lalu Jean pergi dengan menangis, kalau aku sudah minta maaf Aim, aku menyesal dan aku minta maaf.
Lalu Jean kembali menjadi dirinya yang dulu, tidak peduli dan akan membuang semuanya.
Termasuk piano berharganya ibu, akan dijualnya diam-diam tanpa memperdulikan perasaan ibunya.

Setelah dijual, dan ibunya pulang kerumah, ibu Jean menggedor pintu kamarnya dan Jean bersikap acuh dengan memasang pereda bising.

Scene berikutnya Jean bohong akan ada kerjaan, tapi malam itu adalah pergantian tahun baru dan dia harus pergi dan meminta tolong barang sisa yang ada di kamarnya untuk dibuang karena dia tidak sanggup membuangnya sendiri.
Dia ternyata booking hotel untuk nangis sendirian.


Lalu dia-pun menghapus Aim dari daftar teman FB-nya, serta ditemukan bahwa dia merobek photo keluarganya yang dimasa lalu terlihat hangat.
Semua barang tidak berguna sudah tidak ada di rumahnya, dan tahap renovasi dimulai, dan Pink senang akhirnya semua barang yang menumpuk sudah hilang lalu menanyakan kabarnya dengan Aim.

Jean berbohong kemungkinan mereka bisa menjadi teman.
Lalu temannya nanya, "Kamu sudah bisa tenang kan sekarang ?".
Jean tersenyum kecut, tenang apanya, Jean memperlihatkan tatapan mata yang kosong, perlahan matanya mulai berair sambil menatap bekas tempat piano ayahnya.


THE END!!

Akhir kata, ini review terniat aku kayaknya.
Film ini tuh relate banget, Jean itu korban ayahnya yang melarikan diri dari tanggung jawabnya.
Dia jadi bersikap egois layaknya orang yang dia benci, melarikan diri ketika merasa hubungan dia dengan Aim tidak ada masa depannya lagi.

Perkara meminta maaf itu emang sesulit itu guys.
Banyak orang yang merasa kayak enak aja buat salah terus minta maaf seolah jadi mengoper bola, dia sudah minta maaf dan aku jadi punya tanggung jawab memaafkan dong ?
Sebagai muslim pasti paham harus apa, tapi tetap saja, perkara meminta maaf dan memaafkan itu berat.
Kalau tidak mau men-judge sesorang kenapa sulit banget minta maaf sih, balik lagi emangnya mudah memaafkan dengan segala kesalahan itu ?
Makanya manusia diharuskan menjaga lisan, menjaga sikap kan, karena emang mendapatkan maaf itu susah.

Disini diceritakan sederhana tentang ingin renovasi aja jadi kebawa-bawa masalah kehidupan.
Karena seolah relate dalam proses "move on"-nya.

Btw aku kalau jadi Aim juga sakit hati banget sama Jean.
Terus disini-kan dipertanyakan terus langsung buang barangnya gitu aja kalau merasa gak penting ?
Balik lagi ke masing-masing individu, kamu kalau mau hidup minimalis ya harus gitu, punya barang yang penting-penting aja, lihat Jean, tipe baju dia aja gak ada corak sama sekali, putih, hitam. ya gitu-gitu aja.

Tapi kalau kamu orang yang gak bisa hidup minimalis ya hidup sesuai prinsipmu.
Terus kayak, "Lalu gimana kalau aku ingin minimalis tapi pasangan hidup atau keluarga gak suka ?"

Setidaknya diskusi, minta 1 lokasi aja untukmu seminimalis mungkin,
Atau dengan perlahan-lahan kasih gagasan, hidup minimalis itu gimana ke keluarga.
Kalau mereka nolak ya jangan maksa kayak Jean.
Kalau belum punya istri, bisa mungkin cari istri yang sepaham.

Aku merasakan juga sakit hati Jean ketika dia berusaha gak melarikan diri dengan menelfon ayahnya, tapi apa ? Sia-sia.
Terkadang kalau diposisi itu sulit banget gak sih, disatu sisi dia ayah, harus jaga silaturahmi tapi dengan berbicara dengannya itu menyakitkan dan tidak melegakan sama sekali.

Yasudah itu aja dulu, akhir kata, film ini bagus.
Skor dari aku 8/10.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Webtoon The Second Marriage

Lagu dengan tema "Rumah"

Jika Kau Warna