Mawar yang Berduri

Suatu hari, seorang ibu menasehati anak perempuannya yang masih belia.

Ini tentang perempuan, begitu katanya.
Anak gadis itu menatap mata ibunya yang sayu. Mengerti bahwa arah pembicaraannya akan serius.

Sang anak perempuan tersebut tersenyum kepada ibunya, kenapa dengan seorang perempuan bu ?

Sang ibu mengelus kepala anaknya dan berkata, "anak ibu yang paling cantik, hartanya ibu, harapannya ibu, berliannya ibu, ingat bahwa menjadi seorang perempuan harus seperti mawar yang berduri."

Anak perempuan itu memang masih tergolong belia, umurnya belum bisa dikatakan dewasa. Anak perempuan yang masih merajuk, egois, dan cengeng kepada ibunya. Tapi kalimat itu sudah menusuk dihatinya dan entah kenapa dia tahu, ada beban yang harus ditanggungnya.

Sang ibu melanjutkan kalimatnya, "kamu adalah bunga mawarnya ibu yang cantik, kamu kebanggaan ibu, tetap jadilah cantik, menjadi perempuan harus baik tutur katanya, santun, bermartabat, anggun, pintar, berpendidikan. Kamu adalah harga dirinya ibu, jika harga dirimu rusak, harga diri ibu juga rusak.

Durimu, kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri, boleh punya banyak teman, tapi kamu harus melindungi dirimu.

Seorang perempuan harus tetap harum dilihat orang lain, jika kamu kehilangan keharuman itu dan menjadi busuk hanya akan mempermalukan ibu, ayah dan kakak-kakakmu.

Jadi jangan pernah kehilangan keharumanmu itu."
Sang ibu menatap serius kepada anak perempuannya.

Sang anak, hanya bisa terdiam, dan tersenyum mengatakan baik bu, entah dia mengerti atau tidak perkataan ibunya tapi dia jadi bertanya dalam pikirannya "apakah engkau juga mawarku bu ?"

Harapan ibunya sungguh luar biasa berat.
Tapi dia belum sepenuhnya mengerti perempuan yang diharapkannya itu bagaimana.

Bertahun-tahun lamanya anak perempuan itu pun tumbuh dewasa. Dia teringat perkataan ibunya dimasa lalu.

"Bu, aku sudah dewasa sekarang, lihat aku bu, apakah aku masih jadi mawarmu yang berduri ?

Mungkin aku dulu sempat layu bu, maafkan aku bu, tapi sekarang aku sudah tidak layu.

Aku akan menjadi mawar yang paling indah untukmu bu."

Anak perempuan itu .... ah wanita itu, sekarang dia mengerti mawar berduri yang dimaksud ibunya.

Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk mengerti, jika dia mengerti lebih cepat, akankah ... akankah ada perubahan ?

Tidak ...
Tidak ada yang berubah, wanita itu mencapai titik dimana dia mengerti karena waktu dan kejadian yang dia lewati.

Dulu dia susah sekali untuk menjadi wanita yang anggun, dia itu semaunya sendiri dan pemberontak.

Sekarang dia sungguh berbeda.

"Terimakasih, sudah mentakdirkan aku menjadi anaknya ibu, ibu memang jauh dari sempurna, tapi nasehat ibu ada benarnya.

Bagaimana bisa aku melukai malaikat itu yang sudah engkau titipkan padaku.

Biarlah aku sekarang yang beganti posisi untuk terus mendukungnya.

Karna akulah satu-satunya yang dia punya,
Akulah satu-satunya harapan yang dia punya.

Ibu ....
Pegang tanganku bu, ayo berbagi beban padaku.
Karna aku sudah berdiri kokoh untukmu bu,
Jangan ragu untuk menggenggamnya.
Lihat aku bu,
Nasehatmu masih tertanam dan masih aku lakukan.

Karna engkau mawar berduri bagiku.
Aku akan menjadi segalanya untukmu."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Webtoon The Second Marriage

Lagu dengan tema "Rumah"

Jika Kau Warna