Setitik Cahaya
Pernahkah engkau jatuh ke dalam lubang paling dalam, bahkan bayanganmu sendiri pun tak sanggup menemani.
Manusia, yang namanya manusia,
Pasti pernah merasakan terjatuh, terluka, terkhianati, kelelahan dengan segala tanggungan.
Dalam situasi keputusasaan itu pasti semua yang engkau lihat gelap gulita.
Hatimu tidak mampu melihat bahkan setitik cahaya pun kau tak mampu melihat.
Mungkin yang bisa kau lakukan menyalahkan takdir, menyalahkan semua orang, menyalahkan diri sendiri.
Seolah engkau tidak pantas menerimanya.
Seolah engkau manusia paling merasa sakit sedunia.
Seolah engkau sendirian.
Seberapa kali engkau teriak,
Hanya terasa semakin terkoyakkan hatimu.
Air matapun mengering.
Sekali lagi, sunyi dan pekatlah yang selalu engkau lihat.
Semua orang pasti mendapatkan setitik cahaya dari pekatnya lubang keputusasaan itu.
Tergantung dari cara engkau memandang,
Mampukah hatimu melihat setitik cahaya itu ?
Setitik cahaya itu harapan yang diberikan sang pencipta padamu.
Sang pencipta menginginkan, engkau berharap padanya.
Berapa kali engkau acuhkan setitik cahaya itu ?
Menutupi dengan tanganmu dan yang engkau percayai adalah sang pencipta mengkhianatimu, berlaku tak adil padamu.
Dengan angkuhnya engkau marah karena sang pencipta telah merenggut semua kebahagiannmu.
Padahal engkau lupa, sang pencipta selalu memberikan setitik cahaya itu padamu, walau seangkuh apapun engkau. Sejahat, setidak berterima kasihnya engkau kepadanya.
Sang pencipta masih terus memberikan setitik cahaya pada kegelapan dihatimu.
Raihlah cahaya itu,
Raihlah harapan satu-satunya yang engkau punya.
Jangan mencari manusia untuk bisa memberikanmu cahaya.
Tapi pada sang penciptalah yang bisa kau minta.
Nikmati proses bangkit dari keputusasaan itu,
Cahaya itu akan semakin indah kau lihat.
Dan sang pencipta akan membersihkan hati gelapmu.
Catatan :
Tulisan ini ditulis setelah mendapat inspirasi dari lagu Asu wa Kuru Kara.
Komentar
Posting Komentar