Rindu
Ketika rasa rindu itu hadir, aku bisa apa ?
Hanya bisa merangkul rasa ini.
Walau menyiksa, walau tiada penawarnya tapi rasa ini akan selalu hadir semaunya.
Saat mencoba memejamkan mata,
Serpihan ingatan mulai mengganggu, membuat rasa rindu semakin kuat.
Semakin erat pula aku merangkulnya.
Sang perindu hanya bisa membunuh perasaannya lagi dan lagi.
Menyibukkan diri, lalu sendiri dan dia datang lagi.
Seberapa kuat mencoba berdamai,
Tapi rindu itu memang tidak tahu diri.
Dia hadir lagi dan lagi.
Pelukan hangat dan senyum ibu,
Aroma masakan ibu,
Makan bersama dan berbagi cerita,
Liburan bersama dan berbagi canda tawa,
Suasana hangat ketika ngumpul bersama,
Bintang-bintang yang bersinar di teras rumah.
Rindu aku rindu.
Ah haruskah aku membunuh lagi dan lagi ?
Bagaimanapun aku membunuhnya,
Rasa ini hanya semakin pekat.
Bagaimana ini,
Waktu tidak sepenuhnya menyembuhkan rasa rindu menyedihkan ini.
Bagaimana ini,
Aku tak mampu benar-benar mengunci rasa rindu ini.
Hai, rindu.
Sepertinya kamu sudah terlalu menyesakkan untuk di rangkul. Aku sudah tak kuasa. Aku tak berdaya.
Tapi walaupun mengibarkan bendera putih,
Rasa rindu ini tetap tidak ada obat penawarnya.
Hai, rindu.
Berbaiklah padaku, karna aku akan merangkulmu selamanya. Jangan terlalu kejam padaku. Aku hanya tidak punya pilihan lain selain itu.
Aku tidak ingin bersahabat denganmu,
Aku hanya terpaksa merangkulmu semakin erat.
Berharap dalam rangkulan, kamu tiba-tiba sesak dan hilang.
Hai, rindu.
Berhentilah memutarkan kenangan.
Sudah cukup, saatnya kenangan itu harus dikunci rapat-rapat.
Walaupun kamu sangat menyebalkan, terimakasih sudah hadir, walau aku benci kamu hadir tiba-tiba dan merusak mood.
Jadi cukuplah aku merangkulmu semakin erat dan erat sampai rasa rindu ini digantikan.
Hanya bisa merangkul rasa ini.
Walau menyiksa, walau tiada penawarnya tapi rasa ini akan selalu hadir semaunya.
Saat mencoba memejamkan mata,
Serpihan ingatan mulai mengganggu, membuat rasa rindu semakin kuat.
Semakin erat pula aku merangkulnya.
Sang perindu hanya bisa membunuh perasaannya lagi dan lagi.
Menyibukkan diri, lalu sendiri dan dia datang lagi.
Seberapa kuat mencoba berdamai,
Tapi rindu itu memang tidak tahu diri.
Dia hadir lagi dan lagi.
Pelukan hangat dan senyum ibu,
Aroma masakan ibu,
Makan bersama dan berbagi cerita,
Liburan bersama dan berbagi canda tawa,
Suasana hangat ketika ngumpul bersama,
Bintang-bintang yang bersinar di teras rumah.
Rindu aku rindu.
Ah haruskah aku membunuh lagi dan lagi ?
Bagaimanapun aku membunuhnya,
Rasa ini hanya semakin pekat.
Bagaimana ini,
Waktu tidak sepenuhnya menyembuhkan rasa rindu menyedihkan ini.
Bagaimana ini,
Aku tak mampu benar-benar mengunci rasa rindu ini.
Hai, rindu.
Sepertinya kamu sudah terlalu menyesakkan untuk di rangkul. Aku sudah tak kuasa. Aku tak berdaya.
Tapi walaupun mengibarkan bendera putih,
Rasa rindu ini tetap tidak ada obat penawarnya.
Hai, rindu.
Berbaiklah padaku, karna aku akan merangkulmu selamanya. Jangan terlalu kejam padaku. Aku hanya tidak punya pilihan lain selain itu.
Aku tidak ingin bersahabat denganmu,
Aku hanya terpaksa merangkulmu semakin erat.
Berharap dalam rangkulan, kamu tiba-tiba sesak dan hilang.
Hai, rindu.
Berhentilah memutarkan kenangan.
Sudah cukup, saatnya kenangan itu harus dikunci rapat-rapat.
Walaupun kamu sangat menyebalkan, terimakasih sudah hadir, walau aku benci kamu hadir tiba-tiba dan merusak mood.
Jadi cukuplah aku merangkulmu semakin erat dan erat sampai rasa rindu ini digantikan.
Komentar
Posting Komentar